“Kekal”

Oleh : Lolita Noor Amalia

Gas Deso telah usai. Hiruk pikuk keramaian telah berganti dengan kesunyian yang begitu terasa.

Desiran air sungai yang mengalir sampai ke hulu menyimpan teriakan keras. Lalu dijawab, kemudia ia membalas. Ucapan yang tidak dipahami rasa.

Rupanya hujan datang menambah berkat untuk semesta. Sejenak menyandarkan tubuh rapuh

sambil mengingat siapa dirimu. Ah sialan, aku terjebak dalam kedamaian raut wajahmu. Tentu saja, kunikmati rindu dengan gaya yang berbeda.

Kusulut sebatang rokok hanya sebagai penghangat badan. Aku tidak candu, bagiku tidak menyehatkan. Duniaku lebih berfantasi dengan rindu yang menggebu, membuat jantungku berdetak tanda bahwa aku bahagia. Ramai sekali, mataku tertuju pada gadis yang mulai tumbuh dewasa dengan badan berlenggak-lenggok menghibur penonton. Seakan mengingatmu, tapi dimana kita pernah berjumpa?

**

Tayub, benar saja dia penari tayub. Mengibaskan sampur warna merah dengan senyum yang menampar dunia khayalanku. Katakan padaku, kenapa engkau membuatku mengagumimu? Baiklah, ternyata purnama sedang tersenyum padaku. Aku deklarasikan saat ini juga bahwa aku menginginkanmu. Hindia-Belanda terlalu banyak menyimpan misteri, termasuk engkau. Di atas pendopo desa kau terlihat lusuh. Kain jarik kumal seperti sudah sangat lama dan beribu-ribu kali di pakai. Kebaya warna hijau hanya seperti kain lap meja dirumah. Kau juga tak memakai gincu, pucat sekali. Gelungan rambutmu seperti sapu ijuk saja. Tapi mengapa aku sangat tertarik melihat tarianmu? Bahkan kamera dikepalaku ku tidak berhenti untuk memotret.

Setahun sekali hiburan tayub diadakan saat gas deso dimulai. Kalau saja orang mendengar tayub,

yang terlintas hanya hal tabu. Dipenuhi perempuan berjoget demi sebuah saweran yang diselipkan di belahan dada oleh laki-laki hidung belang. Tidak ada yang menghampirimu , mengajakmu berjoget saja tidak. Lalu bagaimana caranya kau dapat saweran untuk menyambung hidup? Kurasa karena begitu lusuh dan kumal sehingga tidak ada yang mau mendekatimu. Kau terlihat begitu cela dihadapan para penonton. Astaga… kau menatap dan tersenyum padaku.

Ayumu koyok nawang wulan, langit wae kesundul begitu aku mengagumimu. Tenanglah cah ayu, kau akan selalu abadi dalam jiwaku. Tatapan matamu, pesonamu, tubuhmu, lenggak lenggok tarianmu sudah resmi membekas di mataku.

“Aku Jaka. Boleh saya tahu siapa nama mu?” Hatiku pecah, peluhku membanjiri seluruh

tubuhku.

“Mengapa kau tak berhenti melihatku?”

“Aku melihat semuanya, kebetulan saja aku tak sengaja melihatmu.”

“Lelaki? Lelaki? Hahahaha.” Jawabnya

Aku bingung, kenapa gadis ini tertawa. Ada apa dengan lelaki? Apakah dia tidak menyukaiku atau

dia merindukan lelaki nya?

Wajahnya pucat , tubuhnya menggigil, jemarinya berkerut. Heran aku melihat gadis ini. Sesekali ia mengambil nafas dalam-dalam pandangannyakosong. Iamemintaku mengambil minum, setelah kembali jejaknya tak ku temui.

**

Aku selalu banggadengan kesenian yang ada di Kota Blora. Persetan orang lain menganggap tayub

hal yang buruk. Bagiku tayub dimensi ciptaan manusia yang luar biasa dan aku sangat bangga. Adanya perayaan Gas Deso mempererat hubungan silaturahmi antar warga, sehingga aku sangat menyukainya.

Tayub, gadis itu membuatku semakin penasaran. Sepertinya aku melihatnya di alam mimpi, tapi mengapa dia datang. Tayub boleh diikuti oleh siapa saja tidak memandangusia, tua ataupun muda. Sisi lain bagiku, lebih baik dia sekolah belum waktunya ia bekerja. Aku sungguh tidak sabar ingin tahu siapa gerangan yang membuat hatiku berdesir.

“Pak Wan, siapa gadis kecil berpakaian lusuh yang ikut menari?”

”Siapa Jak, tidak ada gadis berpakaian lusuh.”

Pengkhianat, pandanganku mengkhianati hatiku. Aku menerobos mencari gadis lusuh nan manis. Tapi kemana dia, kenapa menghilang begitu saja. Kutanyakan pada semua orang, mereka tidak mengerti maksudku dan menganggapku tidak waras. Seneweng sekali mereka, tadi ada berjumlah 6 orang, mengapa ini hanya ada 5. Potret nya terekam dalam kamera, dia menghilang. Rekaman di otakku tidak mungkin menghapus file begitu saja tanpa perintah tuannya. Apa-apaan ini, aku merasa di permainkan.

“Aku tau yang kau maksud Jak, dia nyata pandanganmu tidak berkhianat.” Senyap sunyi sepi aku

berkonsentrasi mendengarkan ceritadar Pak Wan. Terlewat sedikit saja aku akan menyesal seumur hidup.

 

Marni

Gadis penari tayub yang aku kaguni, dia dipaksa untuk menari dengan dalih krisis ekonomi. Datang di mimpi saat usia 14 tahun, make-up membuatnya semakin ayu. Aku sempat terheran mimpi dan kenyataan begitu berbeda. Sayang, hujaman kecaman dan ancaman menerpa dirinya. Lelaki itu mengawininya memberikan iming-iming kekayaan untuk keluarganya. Benar saja , seketika menjadi kaya tapi tidak bahagia.

Harga diriku tercabik-cabik, aku mulai naik pitam mendengar ceritak Pak Wan. Marni korban kawin dini, harusnya dia bermain dan bersekolah. Belum pantas untuk kawin , ditambah setiap hari dia dihajar laki beristri tiga dan beranak 5 itu.

Terbesit untuk merantau bekerja di pabrik mengais rejeki. Ibunya tidak rela berjauhan dengan anaknya. Ia menjadi penari sejak usia 11 tahun.Aku menjadi laki-laki yang beruntung bisa melihatmu menari. 10 tahun yang lalu kau menari dengan indahnya.

Ketahuilah purnama tahu dan tidak buta bahwa aku pernah menunggumu disudut hati terdalam. Bayanganmu mengajari ku arti kepedihan, kau sangat kuat terhujam belati yang melukai ulu hati. Kejam perkataan para manusia yang mencacimu. Menarilah bersamaku, akan kutemani kau untuk menari dengan baju lusuhmu.

Sangat mengerti penderitaanmu, setiap hari wajahmu selalu membiru dan hati lebam-lebam. Satu pukulan keras , kepalamu terhantam. Seketika, Marni limbung ke tanah.

Marni & Jaka 1975

Hits: 34

By |2020-07-08T22:10:13+07:00Juli 8th, 2020|Categories: Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.