Kisah Lama

Penulis: Shochifah Diyah P

Rintik hujan malam itu kubiarkan jatuh mebasahi tubuhku. Biarkan airnya mengalir beriringan dengan air mataku. Waktu sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari.  Semua orang sedang lelap dalam mimpi indahnya, apalagi suasana sedang hujan. Sedangkan aku? Aku seperti fobia dengan tidur malam. Aku takut ketika aku terlelap, bayangan tentang kala itu kembali lagi. Aku benci dengan keadaan ini. Aku ingin sekali menikmati tidur malam seperti orang-orang normal pada umumnya. Kemudian memimpikan hal-hal menarik yang bisa kuceritakan kepada orang-orang terdekatku. Sayangnya, mimpi-mimpi yang kuharapkan hanyalah sebatas harapan.

Malam itu puncaknya. Puncak dimana aku sudah lelah dengan semuanya. Aku hanya menginginkan hal sederhana. Yaitu dapat terlelap dengan tenang tanpa ada hal-hal menyebalkan didalamnya. Dan itu semua tidak bisa. Semua karena hari itu. Hari paling ingin aku lupa,tapi aku terus mengingatnya.

Aku sampai lupa belum menyebut namaku siapa. Panggil saja aku Ayu. Kini aku tengah duduk di bangku kelas akhir di salah satu SMP ternama di Surabaya. Dulu aku pernah tinngal di kota Semarang. Namun sekarang aku dan keluarga pindah rumah ke Surabaya. Awalnya kepindahan ku ke Surabaya supaya aku bisa menghapus ingatan buruk di masa lalu. Namun teryata sama saja. Entah Surabaya, Semarang, atau kota manapun, ingatanku masih saja sama. Seperti mala mini.

Kembali ku ingat  kejadian 5 tahun lalu. Saat itu aku baru berusia 10 tahun. Hari itu hari Minggu. Ayah mengajak kami sekeluarga pergi berlibur di salah satu penginapan yang dekat dengan tempat wisata pegunungan. Kami pun tiba di penginapan pukul 8 pagi hari. Suasana penginapan sangat sepi. Tak seperti biasanya yang  ramai oleh pengunjung. Kami sedikit heran dengan keadaan ini. Tapi kami tetap masuk ke penginapan dan memesan satu kamar yang berukuran besar.

Setelah meletakkan barang-barang di kamar yang tadi kami pesan. Kami pun bergegas ke taman bermain yang berada di belakang penginapan. Suasananya menyenangkan dengan suguhan pemandangan gunung yang begitu cantiknya. Ibu mulai menata makanan yang sudah kami siapkan dari rumah. Adikku yang berusia 5 tahun sudah asik dengan permainan yang ada disana seprti ayunan dan jungkat jungkit. Aku mulai menyantap makanan yang dibawa ibu. Tiba-tiba aku teringat bahwa buku cerita favoritku tertinngal dikamar penginapan kami. Akupun memutuskan untuk mengambil nuku itu.

Kini aku tengah berjalan menuju kamar ku. Namun kakiku berhenti ketika mendengar suara jeritan namun terdengar sangat jauh sekali. Aku mencoba mengabaikannya dan kembali berjalan. Namun suara itu semakin jelas terdengar. Aku kembali berjalan sampai pada akhirnya aku melihat seorang perempuan yang rambutnya sedang diseret oleh seorang pria menuju sebuah kamar yang lumayan dekat dengan kamar penginapan yang kami sewa. Akubyang saat itu masih anak-anak sangat ketakutan melihat kejadian itu. Aku bersembunyi dibali vas bunga yang besar sehingga cukup untuk menutui tubuhku yang mungil.

“cepat! Tidak usah banyak omong! Turuti saja aku!” pria itu berkata sambil terus berjalan menarik rambut perempuan itu.

“saya tidak mengenal anda. Mengapa anda melakukan seprti ini kepada saya?” perempuan itu menjawab dengan tangis dan ucapan yang terbata-bata.

“diam saja kamu! Kau tidak tahu siapa saya? Saya bisa membayar berapapun semaumu!” kembali pria itu menjawab. Kemudian menghilang di balik pintu kamar.

Aku yang saat itu terlanjur penasaran, memutuskan untuk mengikuti kedua orang itu. Dengan rasa takut ku langkahkan kaki kekamar yang dituju oleh orang tadi. Dan ternyata pintu kamar nya sedit terbuka. Aku bisa melihat jelas apa saja yang terjadi di dalam kamar tersebut. Kulihat dengat jelas perempuan tadi kembali berterik. Sangat keras. Tapi kulihat sekelilingku taka ada satu orang pun yang dating kearahku.

“aku akan bayar berapapun, apapun yang kau mau.” Kata pria itu sambil menelanjangi perempuan itu.

Perempuan itu hanya bisa menangis. Menolak apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Namun setiap dia mengeluarkan teriakan, laki-laki itu akan menampar wajahnya, menjambak rambutnya, dan menyiksanya sampai dia hanya bisa menangis.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana laki-laki itu dengan kurang ajar memperlakukan perempuan yang bersamanya. Dia memperkosa habi-habisan perempuan itu, kemudian kembali memukulnya ketika perempuan itu tak memenuhi keinginannya. Aku menangis. Sungguh, aku ingin berteriak minta pertolongan. Tapi mulutku tidak bisa berucap. Badanku bergetar, takut.

Tak cukup sampai disitu. Aku lebih dikejutkan oleh teriakan yang lebih keras lagi dari perempuan itu dan kemudian teriakan atau tangisan itu tak terdengar lagi. Tidak. Aku takut menceritakan yang ini.

Ya, perempuan itu sudah tak sadarkan diri dengan gelas pecah yang menancap di perutnya. Darah bercucuran dilantai kamar, di kasur, dan di baju pria itu. Sedangkan pria itu seperti tak bersalah tidur disebelah perempuan yang sudah tak sadarkan diri sambil tertawa puas.

Aku berlari sambil teriak, aku tak peduli laki-laki itu mendengar suara teriakanku atau tidak. Aku menghampiri ayah ibu ku sambil menangis. Mereka bingung mengapa aku kembali dengan keadaan seperti itu. Dan kemuadian aku tak sadarkan diri.

Aku benci laki-laki itu. Aku benci mengapa waktu itu aku harus kembali ke kamar untuk mengambil buku. Aku benci dengan orang-orang yang seenaknya kepada orang lemah hanya karena dia punya harta dan kekuasaan. Aku benci mereka yang tak pernah menghargai perempuan.

.               Dan semenjak hari itu, setiap kali mataku terpejam, bayangan tentang kejadian itu kembali hadir di ingatanku. Itulah alasan mengapa aku tidak bisa tidur dengan nyaman. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi pada ku atau pada orang-orang terdekatku. Semua terasa begitu ngilu.

Perempuan memang ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah lembut. Tapi tidak untuk di anggap lemah. Perempuan memang lembut dan tidak untuk diperlakukan dengan kekerasan. Perempuan itu mulia. Bahkan ia memiliki surga di telapak kakinya.

Hits: 65

By |2020-05-19T16:52:49+07:00Mei 19th, 2020|Categories: Cerpen, Gender|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.