GADIS KECIL

Penulis: Ipeh

Namanya Safira, gadis kecil yang berusia 5 tahun, dia tinggal di sudut kota Jakarta yang kumuh. Safira nampak kurus dengan wajah kusam tak terurus dan baju seadanya yang sudah nampak kusam juga. Kesehariannya dia harus berjualan koran di pinggir jalan untuk membantu keuangan di keluarganya. Dia nampak cerdas ketika berjualan koran, dia punya cara tersendiri untuk menjajakan korannya, dia sangat kreatif, dia tidak pernah memaksakan orang untuk membeli korannya atau sengaja memelas-melaskan wajahnya agar orang membeli korannya. Meski dia lelah dia tidak pernah menunjukkan kepada orang orang bahwa dirinya lemah. Safira anak yang cerdas, sayangnya Safira kurang beruntung, dia lahir dari keluarga tidak mampu sehingga harus dipaksa tidak bersekolah karena  bekerja demi membantu perekonomian keluarganya.

Suatu hari aku menemuinya di pinggir jalan ketika dia sedang istirahat dari menjajakan korannya. Dia begitu ramah kepadaku, mempersilahkan aku duduk disampingnya, “sini kak silahkan duduk, maaf tangan saya kotor”, katanya ketika aku ingin menyalami tangannya, takut jika dia mengotori tanganku. “ah tak apa”, aku tetap menyalami tangannya, akupun duduk di sebelahnya. Sejenak kita saling diam satu sama lain. Diapun berbasa basi bertanya padaku, “kakak mau beli koran saya?” , ku jawab “tidak, ini ada sedikit jajan untukmu”, “ah tidak usah repot repot kak, saya sudah makan tadi pagi”, jawabnya menolak dengan halus pemberianku, “yasudah kalau kamu tidak mau menerima pemberianku, mari kita makan ini bersama”, kataku sambil mulai membuka makanan yang tadi aku bawa. Kita sudah mulai akrab satu sama lain. Safira mulai menceritakan kepadaku tentang bagaimana kehidupan sehari-harinya.

Pagi pagi sekali dia sudah harus bangun menyiapkan air hangat untuk mandi adiknya, setelah itu dia harus membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk keluarganya, dia memang masih kecil tapi dia dituntut untuk melakukan semua itu, aku sangat tidak tega. Setelah selesai melakukan semua pekerjaan rumahnya, dia langsung menuju kota untuk menjual koran-korannya, kadang dia sampai tidak sempat sarapan atau makan. Kemudian aku tanya kepadanya “kenapa harus kamu yang berjulan koran? Ayah dan ibumu kemana? “, dia hanya menjawab dengan senyuman tetapi tidak benar-benar sebuah senyuman, dia seperti menyembunyikan kesedihan dibalik semuanya. Kemudian aku tanya kembali kepadanya “kenapa kok kamu malah senyum?” , “ayah pergi meninggalkan ibu ketika aku masih berumur 1 tahun, semenjak itulah ibu yang harus menjadi tulang punggung dalam keluarga kami”. Aku terdiam melihat dia begitu tegar menceritakan semuanya, dia baru berusia 5 tahun dan dia harus menanggung beban seberat itu, aku tidak bisa membayangkannya . Akupun kembali bertanya kepadanya “lalu ibumu bekerja dimana?”, tanyaku, kemudian dia menjawab “ibu hanya berjualan gorengan di rumah itupun kadang kadang, beliau sakit keras jadi tidak bisa bekerja di luar rumah”. Lagi lagi pernyataan dari anak itu membuat hatiku kembali teriris, “kalau boleh tau ibumu sakit apa?”, tanyaku pada Safira, “ibuku sakit gula dan kami tidak punya biaya untuk berobat jadi kakinya sangat bengkak, beliau sangat kesusahan untuk berjalan”. Akupun mempersilahkannya untuk menyantap makanan yang tadi aku bawa, barangkali itu sedikit menghapus kesedihannya. Melihat dia makan seperti nikmat sekali, aku ingin menangis melihatnya. Padahal makanan yang aku bawa hanyalah nasi bungkus yang berisi rames dan telur dadar, itu makanan biasa menurutku dan mungkin itu makanan yang tidak pantas dimakan bagi sebagian orang, tetapi bagi Safira makanan itu sangat enak dan sangat mewah. “kenapa kamu tidak sekolah?”,  tanyaku kembali kepada Safira, “lalu mau dapat biaya darimana kalau aku sekolah “, jawabnya masih dengan begitu tegar, “jangankan untuk sekolah kak untuk makan saja kami susah, sehari paling banyak saya hanya mendapatkan uang 20000 untuk makan, kadang aku ingin menangis kak ketika melihat anak anak kecil seusiaku yang dijemput orang tuanya ketika mereka pulang dari sekolah, aku juga ingin seperti mereka kak memakai seragam, bersekolah, dan dijemput orang tuaku ketika aku pulang sekolah, kadang aku ingin menangis melihat mereka yang begitu ceria ketika mereka dibelikan es krim atau mainan oleh orang tuanya, sedangkan aku…”, kali ini Safira bercerita dengan air matanya yang mulai menetes. Aku berusaha menenangkannya, kemudian dia sedikit lebih tenang dan air matanya pun tidak keluar lagi. Setelah itu dia berkata lagi “aku ingin ketika besar nanti aku jadi pejabat, aku ingin membuat sekolah gratis untuk anak-anak seperti ku yang tidak mampu”. “tapi kak, pejabat kan harus pintar harus sekolah. Sedangkan aku tidak sekolah, aku tidak bisa ya kak jadi pejabat?” lanjut Safira. “andai saja ada orang baik yang mau membiayaiku sekolah” katanya lirih dengan wajah menunduk. “andai aku bisa sekolah dan jadi pejabat, aku akan memberi obat gratis untuk orang-orang yang sakit seperti ibu”, “kak, jika aku bertemu presiden apakah dia mau membantuku?” tanyanya penuh harap. Sungguh hatiku pilu sekali mendengar penuturannya dengan cara bicara anak kecil yang khas. Kali ini aku tak lagi bisa menahan air mataku. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku tidak bisa membantu apa apa. Aku hanya bisa berharap, semoga kau tetap menjadi anak baik dan hal baik selalu menyertaimu. Aku belajar banyak hal hari ini, dari anak kecil sekecil Safira, aku merasa malu pada diriku sendiri. Dia mengingatkanku untuk banyak hal. Bagaimana harus tetap bersyukur bagaimanapun keadaannya, harus mempunyai mimpi terlepas kita itu siapa, harus tegar dengan apa yang sudah Tuhan takdirkan. Safira, dia adalah gadis kecil yang begitu luar biasa.

Hits: 425

By |2020-05-10T02:44:29+07:00Mei 10th, 2020|Categories: Cerpen, Sosial|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.