Sebuah Fiksi Mini Anomali “SARJA”

Setiap kali langkah itu terdengar, berpasang-pasang mata turut menyelisik. Dan kehadiran, selalu menjadi saat di mana hujan seringai turun teramat deras nan menghujam. Ia bukan pemeran “antagonis” dan bukan pula seorang “bandar”. Lelaki itu, tiada berpenampilan a la bangsawan apalagi pemberontak. Segala sandangan yang ia kenakan – dari ujung kepala hingga telapak kaki, tak sedikit pun menyiratkan bahwa muasalnya adalah kalangan-kalangan eksklusif. Tampilannya khas lelaki Jawa, sederhana. Air mukanya selalu menampakkan keseriusan, namun tatkala ia tersenyum, dua katup bibir tipisnya mencitrakan bulan sabit yang begitu memesona. Tak sedikit dari kalangan wanita dibuat lebur oleh keindahannya.
Segala hal bersifat jasmani yang melekat padanya, tidak mengurungkan orang-orang di sekitarnya untuk bersikap wajar dan semestinya. Memang dari segala yang tampak, ada sesuatu yang tabu dan tersembunyi di dalam diri seorang lelaki bernama “Sarja” itu. Pada awal kedatangannya di lingkungan tersebut, Sarja justru berhasil memikat perhatian orang-orang di dalamnya dengan segala kecerdasan yang dimilikinya. Tak sedikit pula orang yang memujanya secara hiperbola bahkan terkesan kekanakan. Di mata orang-orang kala itu, sosok Sarja adalah seseorang yang selama ini mereka nantikan dengan penuh pengharapan.
Sarja adalah seorang pemuda yang aktif dalam menyuarakan pendapatnya terutama melalui tulisan. Jika boleh diibaratkan, sosok Sarja hampir mirip seperti Minke – seorang karakter di dalam tetralogi Pramoedya yang kemahsyurannya sudah jauh dari ungkapan ragu-ragu. Namun, jika Minke yang kita ketahui adalah pemuda yang lantang dalam menyuarakan ketidakadilan birokrasi kolonial, maka lain dengan sosok Sarja. Sisi kehidupan para minoritas dan penyintas diskriminasi menjadi poros dalam setiap tulisan-tulisannya. Gila, adalah sisi lain dari sosok Sarja ketika ia sedang dengan menulis. Kesederhanaannya surut dan berubah mengerikan apabila orang-orang menyaksikan Sarja sedang bergulat dengan pena dan lembaran-lembaran kertas.
Sudah banyak permasalahan diskriminasi yang ia angkat. Berkat keteguhannya dan kerja kerasnya yang tanpa pamrih itu pula, suara-suara parau para korban diskriminasi bisa terdengar dan menjadi teror bagi siapa saja yang mendengarnya khususnya bagi para pemegang tampuk kekuasaan. Pernah suatu kali, seseorang datang padanya dengan air mata dan suara yang tersendat-sendat berusaha mengutarakan peristiwa yang belum lama menimpanya. Setelah secara saksama Sarja mendengarkan patah demi patah kata yang terucap dari mulut seseorang yang mengibakan itu, mimik wajah Sarja berubah murka dan gertakan giginya begitu memekik ruangan yang waktu itu teramat sunyi. Keesokan harinya, Sarja pergi mendatangi rumah seorang tokoh kampung untuk memaksanya mengakui perbuatan tercelanya terhadap seseorang yang kemarin baru saja mengunjungi kediaman Sarja. Segala upaya halus telah dilakukan Sarja, namun tindakan tak kunjung kooperatif dari tokoh kampung tersebut telah membuat kesabaran Sarja hilang entah ke mana. Pada akhirnya, Sarja mengancam akan membeberkan kebusukan tokoh kampung itu sesegera mungkin. Dan benar saja, tanpa waktu lama, Sarja pun membuktikan segala ucapannya dengan menuliskan sebuah kisah tentang perilaku diskriminasi yang telah dilakukan oleh seorang tokoh kampung itu terhadap seseorang yang merupakan wanita muda yang telah sekitar 1 tahun bekerja di tempat milik sang tokoh kampung. Tulisannya begitu brutal dan tajam, berharap orang-orang akan tahu tentang ketidakpatutan perilaku seseorang yang selama ini mereka segani itu.
Namun, apalah daya bisa Sarja lakukan. Kekuatan dari sang tokoh kampung yang membuatnya muak itu begitu besar. Bukan sebuah hal yang sukar untuk dilakukan bagi sang tokoh kampung untuk menghancurkan kehidupan seorang Sarja. Dengan bermodalkan agitasi, sang tokoh kampung berhasil menjadikan Sarja sebagai orang terusir dalam sekejap mata. Hingga pada akhirnya, Sarja, seorang muda yang begitu gila menjunjung nilai-nilai nurani dan kemanusiaan, harus terkubur di bawah puing-puing suaranya yang tak akan pernah mati meski nafasnya sudah tak lagi membara.

Hits: 30

By |2020-05-09T20:05:21+07:00Mei 9th, 2020|Categories: Cerpen, Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.