Labirin Nikah Muda

Dalam kehidupan setiap manusia terjadi yang disebut dengan perkembangan. Perkembangan yang terjadi bertujuan untuk mengubah kehidupan manusia menuju jenjang yang lebih tinggi ataupun lebih rendah. Setiap manusia dibekali oleh Yang Maha Cinta dengan cinta dan kasih. Dengan begitu perasaan saling mengasihi merupakan fitrah alami sebuah manusia dicipatakan untuk menebarkan sebuah kebahagiaan dan juga kedamaian. Salah satu jembatan yang dapat diambil menuju hal tersebut adalah melalui sebuah ikatan perkawinan/pernikahan.

Perkawinan merupakan suatu hal yang sangat sakral dan suci dalam manusia menjalani sebuah kehidupan. Banyak yang mengatakan bahwa dalam persiapan sebuah perkawinan harus dipersiapkan dengan matang dan baik dari segi finansial maupun mental.

Dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkawinan adalah  ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Negara Indonesia sendiri merupakan negara yang mempunyai banyak sekali penduduk begitu juga didukung dengan banyaknya pulau yang tebentang dari sabang hingga merauke. Namun meskipun begitu negara Indonesia tergolong negara yang masih berkembang. Negara berkembang Menurut Ragnar Nurkse, adalah suatu negara yang sedang mengalami perkembangan pembangunan. Banyaknya permasalahan yang harus segera diselesaikan. Apabila suatu negara ingin dapat dikatakan sebagai negara maju maka harus memiliki 4 perhatian, yakni perhatian terhadap disabilitas, perhatian terhadap anak, perhatian terhadap lansia dan perhatian terhadap perempuan.

Baru-baru ini permasalahan yang sedang heboh dan hangat adalah mengenai perempuan, salah satunya mengenai marak terjadinya sebuah perkawinan dalam usia muda atau dini. Menurut data yang diambil oleh Badan Pusat Statistik (BPS)  pada tahun 2017 menunjukkan bahwa perkawinan anak dalam usia muda terjadi secara merata di seluruh provinsi di Indonesia, dengan jumlah persentase perempuan berbeda-beda. Angka tertinggi terjadi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan presentase sebanyak 39%, sementara yang terendah di DKI Jakarta dan Yogyakarta dengan presentase sebanyak  11%. Jawa Barat ada di posisi 22 dengan angka 27%.

Hal ini sangat mengejutkan karena tidak hanya terjadi pada satu daerah saja namun berbagai daerah mengalaminya. Salah satu kasus yang dirangkum oleh VOA Indonesia dan  mungkin menarik perhatian para penikmat media yakni adanya kasus penganiayaan oleh sang suami kepada istrinya yang berujung pada hilangnya sebuah nyawa. Ditelurusi korban tersebut berinisial Y yang berusia 15 tahun dan D berusia 16 tahun. Hasil autopsi terhadap jenazah Y menunjukkan adanya bekas luka di pelipis dan belakang kepalanya yang mengakibatkan kematian. Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga akibat dampak dari sebuah perkawinan pada usia muda ini. Sangat disayangkan bahwa pada usia muda sudah harus mengalami hal tersebut yang seharusnya masih menikmati indahnya menuntut ilmu.

Jika melihat kebelakang banyak faktor yang melatarbelakangi adanya sebuah perkawinan pada usia muda. Selain faktor tradisi yang terjadi, misalnya perkataan yang terus-menerus dilabelkan pada anak perempuan seperti adanya ungkapan “nanti gak laku lho”, “nanti jadi perawan tua”, dan juga berasumsi bahwa menikahkan anak pada usia muda akan membantu orangtua karena telah melepaskan sedikit tanggung jawab orangtua terhadap anak dan disebabkan oleh rendahnya pendidikan

Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), alasan apapun tetap tidak membenarkan terjadinya sebuah perkawinan anak. Menurut Direktur Advokasi dan Program PKBI, Frenia Nababan, perkawinan anak justru akan membuat  anak rentan terhadap perceraian dan jadi korban kekerasan. Dan yang lebih buruknya lagi berujung pada pembunuhan.

Adapun dampak Dampak negative dan juga positif dari sebuah perkawinan dini. Dampak negative dari adanya sebuah perkawinan dini adalah semakin tingginya angka kematian anak dan ibu. Dampak positifnya adalah semakin berkurangnya angka dalam praktek aborsi. Siti Musdah Mulia berpendapat bahwa pernikahan dini merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia, khususnya pada hak kesehatan reproduksi, dan yang paling penting dalam pernikahan dini bertentangan dengan esensi ajaran agama yang intinya menghargai manusia dan kemanusiaan. Kekerasan yang terjadi pada anak sangat membahayakan untuk itu perlunya sebuah pencegahan agar praktek perkawinan anak dapat berkurang dan bahkan berhenti.

Langkah yang dapat diambil dalam menanggulangi terhadap pencegahan praktek perkawinan dini adalah dengan adanya penguatan terhadap pendidikan bagi para generasi muda. Karena disamping banyak kemudahan diantaranya dengan dikeluarkannya berbagai fasilitas seperti,  kartu Indonesia pintar yang meberikan beasiswa kepada generasi muda, selain itu semakin dibuka lebar berbagai macam beasiswa yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga pemerintahan dan juga swasta, pada umumnya beasiswa tersebut yang berguna dalam hal melanjutkan pendidikan ke tahap yang lebih tinggi.

Penguatan terhadap pendidikan sebagai langkah awal dalam menghalau bahaya yang berada didepan para generasi muda dan juga mempersiapkan generasi muda untuk menjadi penerus bangsa yang gemilang. Karena semakin baiknya pendidikan akan memberikan dampak terhadap cara berpikir yang lebih baik dan juga perluasan wawasan terhadap anak.

Selain itu adapun dengan cara penguatan agama, karena agama yang kuat merupakan benteng yang dapat digunakan secara pribadi. Agama berperan penting dalam  memberikan penyuluhan terhadap kesiapan dalam menjalankan perkawinan. Baik kesiapan yang berkaitan dengan setiap pribadi seseorang baik dalam psikis dan juga materialnya. Karena menjalani biduk rumah tangga merupakan perjalannan yang sangat panjang. Banyak yang menagatakan bahwa kehidupan rumah tangga “bagaikan menggarungi sebuah lautan”.

Pengaktifan kegiatan generasi muda di lingkungan luar sekolah sangat penting. Dalam anak ikut serta dalam dunia yang positif maka akan dapat meberikan ruang pergaulan kepada anak yang positif pula sehingga anak  disibukan dengan hal yang positif. Misalnya aktif dalam kegiatan relawan berbagai kegiatan sosial. Kegiatan relawan ini dapat bermanfaat bagi kehidupan dalam hal memperluas jaringan pertemanan dan juga menurunkan tingkat rentan terhadap depresi. Sehingga anak dapat belajar mengani makna sebuah kehidupan dan tanggung jawab dalam mengambil sebuah keputusan.

Kerjasama pemerintah dalam hal perbaikan regulasi mengenai batas usia minimal sesseorang dapat menikah dan juga peran orang tua untuk dapat mendidik anak dan membekalinya dengan nilai-nilai kehidupan yang positif. Karena orang tua mempunyai tanggungjawab dalam kehidupan anak untuk menju kepada hal yang baik.

 

Sumber gambar :  https://www.wanita.me/menikah-muda-dan-keuntungannya-dalam-pandangan-islam/

Hits: 61

By |2019-08-30T23:44:24+00:00Agustus 30th, 2019|Categories: Hukum, Lingkungan, Sosial|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.