Gerakan Awal Feminisme Semarang

Pagi yang cerah menghantarkan kami untuk mengikuti long march yang diadakan pertama kalinya di kota Semarang. Pertama kali untuk semarang dan pertama kali untuk kami komunitas baru yang namanya dikenal dengan sebutan “feminis semarang”. Tidak ada hambatan apapun yang menghalangi kami untuk tergerak dalam menyuarakan keadilan. Hentakan langkah yang mengebu ngebu dan semangat akan selalu menjadi ingatan di memori. Tepatnya pukul 8 pagi, kami semua para aktivis muda berkumpul tepat di titik depan gerbang kantor gubernur Semarang.
Acara Women March yang dilaksanakan pada hari minggu itu menarik banyak antusiasme para pemuda dan juga warga, kebetulan juga acara tersebut dilaksanakan di sepanjang jalan kantor gubernuran menuju simpang lima. Acara women march ini dilaksanakan serentak di berbagai kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang. Acara ini digelar sebagai bentuk semangat dan rasa solidaritas untuk menyuarakan hak-hak yang sama dalam kesetaraan gender. Gerakan ini bukan aksi anti laki-laki tapi ini aksi untuk perempuan. Perempuan harus mendapatkan kesetaraan baik itu dalam bidang ekonomi, politik, sosial maupun yang lainnya.
Viralnya aksi dan gerakan ini tidak terlepas dari pesatnya perkembangan komunitas komunitas feminisme di seluruh indonesia. Komunitas yang dapat menjadi wadah para perempuan dan kaum minoritas. Gerakan ini sangat begitu popular ketika adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang belakangan ini mencuat dalam kehidupan masyarakat. Pelecehan seksual ini bahkan telah menembus hingga ruang-ruang akademik baik sekolah dan juga perguruan tinggi. Hal ini sungguh sangat ironis dan sangat disayangkan. Bagaimana bisa lingkungan sekolah yang setiap harinya menghirup udara intelektual hingga bisa teracuni oleh tindakan asusila yang terjadi di ruang-ruang akademik. Dan yang lebih parahnya lagi kasus kasus yang ada justru tidak ditangani secara tuntas dan maksimal. Nama baik kampus seolah-olah menjadi prioritas dibandingkan dengan masa depan korban. Jika ini terjadi di kampus lain, jangan-jangan ini juga terjadi di kampus atau bahkan di lingkungan kita. kurang sigapnya dalam penyelesai masalah malah justru tidak memberikan efek jera yang berarti bagi pelaku. Bahkan, banyak pelaku yang masih berkeliaran dengan santai dan duduk di kursi empuk ruangan dosen. Hampir seluruh kampus terdapat kasus pelecehan seksual. Baik itu berujung viral ataupun berujung pada cibiran yang hanya akan menjadi rahasia publik. Sampai kapan kita seperti ini?
Hal ini lah yang menjadi latar belakang bagi para aktivis perempuan dan hak asasi manusia. Melalui gerekan Women March ini mereka ingin menyalurkan dan memberikan informasi kepada masyarakat sekitar agar lebih giat dalam hal mengawasi dan mengawal isu isu terkait dengan pelecehan seksual.
Pelecehan seksual bukan aib bagi korban yang justru ini adalah aib bagi pelaku. Hal ini nampaknya harus segera diatasi. Dimana antara korban dan pelaku harus diberikan rehabilitasi. Rehabilitasi bagi pelaku bisa saja dengan penjatuhan sanksi dan untuk pelaku dapat diberikan pengawalan agar mendapatkan kembali rasa percaya dirinya di masyarakat.
Disamping pembahasan terkait dengan isu pelecehan seksual di ruang ruang akademik. Kami juga mengangkat isu lain terkait dengan polemik RUU PKS yang sudah lama menjadi bahan perbincangan publik. Polemik ini terjadi karena setiap orang mampu mengutarakan pendapat dan pandangannya sendiri-sendiri. Dan dalam pandangan ini pun beragam ada pula yang menerima da ada pula yang menolaknya. Menurut berita yang dikutip dari detiknews menyebutkan banyak sekali permasalahan dan persebrangan yang tejadi didalamnya bahwa pengesahan RUU itu bisa sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kekacauan sosial. Isi dari RUU tersebut dikatakan berisi pelegalan untuk membebaskan kaum-kaum LGBT, pelegalan aborsi, bahkan kebebasan berpakaian.

Namun bagaimana pun dengan begitu banyaknya polemik yang terjadi harus ada payung hukum untuk para korban dan hukuman pagi para pelaku pelecehan seksual. Karena hal atau permasalahan genting tentang permasalahan pelecehan seksual harus diatasi dengan segera. Tiap manusia memiliki hak dalam hal memperoleh sebuah perlindungan dan juga hak kebebasan dari rasa ketakutan. Karena itu merupakan hak dasar manusia yang harus dipenuhi oleh negara. Jika ada hukum yang ada maka akan dapat menekan angka pelecehan seksual yang terjadi. Hal ini menjadikan setiap orang takut karena ada sanksi dan aturan yang mengatur dengan tegas.

Hits: 83

By |2019-05-09T16:26:20+00:00Mei 9th, 2019|Categories: Gender, Minoritas|Tags: , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.