Menuju Seabad Jemaat Ahmadiyah Indonesia; Sebuah Kenikmatan Beribadah Dalam Konsep Ke(Se)Ragaman Berkeyakinan

Penulis: Rahma Roshadi

Nikmatnya sebuah ritual ibadah dalam jalan menemukan Tuhan, sejatinya hanya dapat dirasakan oleh sang pemilik jiwa. Seseorang dengan derajat keilmuan agama setinggi apapun, belum akan tentu dapat merubah keyakinan seseorang dalam beribadah, terlebih lagi dalam menemukan kenikmatan beribadah itu sendiri. Ini bukan hal baru dalam sepanjang sejarah keyakinan, khususnya Islam, karena kita pun mendengar cerita-cerita nabi yang bahkan tidak mampu mengubah keyakinan keluarga terdekatnya sendiri untuk bertakwa kepada Allah ta’ala.
Jemaat Ahmadiyah di Indonesia, adalah sebuah organisasi keagamaan yang telah berkembang pesat dan semakin pesat menjelang seabad usianya di tanah air. Kita boleh saja mencibir bahwa mereka hanyalah sebuah organisasi minoritas, namun lihatlah fakta tentang sepak terjang dan dawamnya dakwah ahmadiyah hingga jelang 1 abad penyebarannya di Indonesia. Adalah Tuan Maulana Rahmat Ali, yang membawa benih kedamaian ahmadiyah untuk pertama kalinya ke Indonesia pada Tahun 1925 di Tapaktuan. Sejak saat itu pulalah, keyakinan para ahmadi demikian bersemi di hati para pemuda-pemuda Indonesia hingga detik ini. Beragam polemik hingga persekusi yang dialami oleh para penganut keyakinannya seperti tak membuat gentar para ahmadi, yang sebenarnya rindu beribadah dengan nyaman, aman, dan damai.
Indonesia, dengan mayoritas muslim terbesar pertama di dunia, tetaplah tidak mengibarkan bendera syariat islam sebagai ideologi bangsanya, melainkan Pancasila, yang membuka pintu toleransi dalam berketuhanan dan berkeyakinan. Namun demikian, pemandangan yang terlihat akhir-akhir ini sepertinya sangat mengusik para penikmat kedamaian islam. Tidak hanya orang islam, tetapi juga para penganut agama lain yang selama ini telah langgeng berjalan beriringan dengan harmonis bersama umat islam. Sebuah sikap ‘tidak turut campur’nya negara, justru menimbulkan pengambilalihan pemahaman terhadap keyakinan syariat islam itu sendiri. Islam yang sejatinya memiliki arti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan semesta alam yaitu Allah subhanahu wa taala, berakar pada kata Salam yang berarti kedamaian. Artinya, islam adalah sebuah bentuk pencarian dan penyerahan diri pada sebuah kedamaian yang hakiki, yaitu kenikmatan beribadah kepada Allah taala.
Semakin menjamurnya islam di Indonesia, adalah sebuah berita indah bagi bangsa kita yang senantiasa menginginkan rahmat dari Allah taala sebagai output dari berislam. Namun apakah demikian adanya, manakala ajaran damai ini diajarkan dengan tutur kata serta ajakan-ajakan yang keras, ditambah pula dengan batasan-batasan yang dimunculkan oleh mereka, yang menganggap keislamannya lah yang paling benar dan paling layak berada di surga Allah. Dan Jemaat Ahmadiyah ini, adalah salah satu dari beberapa keyakinan yang ada di Indonesia, yang sebenarnya telah menemukan cara damainya menemukan Allah, namun dihantam dengan keras oleh mayoritas yang menganggap berbeda dengan jalan telah ada selama ini. Kata menganggap yang saya munculkan tersebut, adalah tidak lain karena yang sebenarnya terjadi, hanyalah sebuah mata rantai dialog yang terputus dan tak kunjung bertemu titik damainya.
Beberapa waktu lalu disalah satu masjid Ahmadiyah di Bandung, sekelompok orang islam melakukan aksi massa di depan pelataran masjid, yang pada saat itu sedang menggelar acara bedah buku “Haqiqatul Wahy” karya Mirza Ghulam Ahmad. Acara yang tidak eksklusif karena dihadiri juga oleh beberapa pakar non ahmadi. Bagi mereka yang telah membaca bukunya, maka didalamnya kita temukan ilmu-ilmu kenikmatan berislam yang damai, salah satunya yaitu dengan memahami sifat-sifat Allah taala, yang harus dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, jika kita ingin benar-benar mengenal dan selalu mendapat kebaikan dan rahmatNya. Di dalamnya juga tertulis, bagaimana khalifah-khalifah ahmadiyah, mengajarkan dengan tegas kepada para ahmadi, untuk mutlak bersyahadat, beribadah, dan tunduk sepenuhnya pada ajaran Allah dan Rasulllah sallllaahu alaihi wasallam sebagai nabi yang paling sempurna. Janji bai’at menjadi ahmadi, bukan hanya berhenti pada secarik kertas belaka, melainkan adalah titik awal dimana seorang ahmadi harus beriman dengan sebenar-benarnya iman. Oleh karenanya, ahmadiyah juga mengajarkan sebuah nilai pengorbanan harta dan jiwa, yang tidak lain adalah sebuah bentuk penghambaan yang sempurna kepada Allah taala. Pengorbanan yang hanya akan dilakukan oleh seseorang, yang sudah tidak lagi memiliki nafsu atau keinginan apapun pada gemerlapnya dunia. Dan orang seperti itulah, yang disebutkan oleh khalifah ahmadiyah, sebagai orang yang mendapat rahmat dari Allah taala, mendapat hikmah dan hidayah sebagai seorang muslim sejati. Dengan keindahan kalimat-kalimat agung mengenai Allah dan Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam tersebut, bagaimana mungkin seorang ahmadi disebut murtad, dan mendapat berbagai sorak-sorai para demonstran untuk bertobat. Harus bertobat kepada siapakah para ahmadi?
Negara ini memang bukan negara islam, namun sepertinya telah terjadi penyeragaman pola pikir tentang bagaimana cara mencari tuhan dalam islam. Para ahmadi tidak menyangkal Nabi Muhammad sallallaahu alaihi wasallam sebagai khatamannabiyyin, tidak pula mengingkari Al-Quran sebagai kitab suci yang paling sempurna dan paripurna. Ahmadi mengimaninya dan bahkan diserukan oleh khalifah untuk menerapkan nilai-nilai agung di dalamnya. Dalam cara mengimani Allah dan Rasulnya serta menerapkan Alquran itulah, jemaat ini memiliki seorang imam suci, yang senantiasa memberikan pencerahan-pencerahan bagi para ahmadi, untuk senantiasa mengingat Allah dan melaksanakan ajaran Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam. Tidak pernah ada ajaran lain selain ajaran berdasarkan AlQuran dan hadits. Tidak pernah pula ada perintah lain dari hazrat khalifah selain bertabligh dengan cara-cara damai, menghindari berdebat, berbicara dengan ilmu, serta wejangan untuk taat dan setia kepada pemerintah, agar tercipta ahmadi-ahmadi yang menjadi teladan dan menciptakan kedamaian kepada khalayak umum dan pemerintah.
Janji bai’at yang diucapkan oleh ahmadi, tidak lain adalah sebuah ikrar dengan hati yang jujur untuk menjaga kehormatan diri dengan keagungan iman, mulai dari perintah taat pada Allah dengan menghindari syirik, zina, kebohongan, dan dorongan hawa nafsu, sampai dengan ikrar untuk mengkhidmati makhluk-makhluk Allah dengan saling tolong-menolong dalam hal makruf serta memberikan manfaat kepada sesama manusia. Lalu, apakah nilai-nilai kedamaian inikah yang harus ditumpas oleh umat islam? Ahmadi taat pada Allah, Rasul, dan ulil amri, sebagaimana Alquran mengajarkan dalam Surat An-Nisa ayat ke 59. Sebuah ajaran yang dilakukan oleh para ahmadi sepenuhnya, tanpa dipotong-potong. Artinya, tidak ada sepak terjang dari jemaat ahamdiyah yang mengajarkan pada radikalisme dan kudeta kepada pemerintah, namun mengapa justru ternilai sebagai sebuah organisasi yang sangat sering dicurigai penyebarannya.
Menjelang 100 tahun penyebaran ahmadiyah di Indonesia, sudah sepatutnya kita hormati dan junjung tinggi nilai-nilai kedamaian islam, dalam satu tujuan mulia yaitu mencari kehadiran tuhan Allah subhanahu wa taala, dengan menanamkan sifat-sifat Allah taala dalam diri kita, dan juga untuk diterapkan dalam perilaku kita sehari-hari.
Jazakumullaahu ahsanal jaza.

Hits: 32

By |2019-04-15T17:34:22+00:00April 13th, 2019|Categories: Toleransi|Tags: , , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.