Saat R.A Kartini Menjawab

Tepat pada pukul 00.00 lelaki itu pulang dengan sempoyongan ke dalam rumahnya, sambil berteriak kencang dan juga menggedor-gedor pintu hingga menyebabkan tetangga di sekitarnya merasa terganggu, melihat kegaduhan yang terjadi pada malam hari itu Ketua RT bersamawarga beritikad baik untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada, namun ketika Ketua RT bersama dengan warga berusaha untuk menengahi sang suami denganistrinya ia malah berkata, “apa urusan kalian mencampuri hidup saya!” mendengar hal itu sontak saja Ketua RT dan warga semakin tersulut emosi hingga ingin mengeroyoknya, tetapi itu semua sia-sia dikarenakan Tuhan telah menyelamatkan nyawanya untuk sekian kali dengan hadirnya malaikat tanpa sayap yaitu istrinya. Seketika sang istri langsung meminta maaf kepada seluruh warga dan membawanya masuk ke dalam rumah, tapi itu semua belumlah usai karena di dalam rumah tersebut masih terdengar bentakan, suara perabotan yang saling beradu, sertatangisan tanpa henti anaknya yang masih kecil. Paginya saat sang istri berbelanja ke warung seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, padahal tetangganya tahu bahwa ia sedang menderita luka fisik dan batin, ia berhasil mengelabuhi warga dengan senyumannya, siklus tersebut berlangsung terus menerus dan tak akan pernah kita tahu kapan berhentinya.

            Kejadian yang dialami oleh sang istri tentu bisa menimpa siapa saja, bisa tetangga kita, saudara kita, orang yang kita sayangi atau bahkan diri kita sendiri. Bagaimana perasaan anda? Tentu sungguh sangat disayangkan mengapa peristiwa ini masih terjadi hingga saat ini.Disini penulis bukannya bermaksud untuk mengorek luka kepada siapapun yang pernah menjadi korban kekerasan, tetapi berusaha menjelaskan bahwa fenomena tersebutsangat erat dan real dengan kehidupankita sehari-hari. fenomena kekerasan terhadap perempuan bukanlah isu remehtemeh karena fenomena tersebut bagaikan gunung es, Mengapa demikian? Karenayang terungkap ke permukaan sangat tidak sebanding dengan kenyataan yang sebenarnya,

Dari catatan tahunan yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan Pada tanggal 8 Maret 2018 menunjukkan hal yang mencenangkan, Kekerasan terhadap istri menempati peringkat pertama dengan 5.167 kasus, kemudian disusul dengan kekerasan terhadap anak menempati peringkat kedua dengan 1.873 kasus. sementara peringkat ketiga kabar mengejutkan datang dari kekerasan terhadap anak perempuan mengalami peningkatan sebanyak 2.227 kasus. Jumlah tersebut penulis yakini masih tidak sebanding dengan kenyataan yang ada. Kasus itu semua terjadi di ranah pribadi/privat, unfortunately korban kekerasan mengalami ketidak beruntungan dikarenakan berada di ranah pribadi sehingga segala kejadian sering ditutupi demi menjaga nama baik keluarga. Adapun pelakunya tidaklah jauh-jauh disekitarnya melainkan orang terdekatnya pun bisa menjadi pelaku seperti: Ayah, kakak, adik,kakek, paman, pacar, teman, gebetan, hingga yang paling sering adalah  suami istri.

            Ada yang mengatakan bahwa lelaki yang melakukan kekerasan terhadap perempuan dipengaruhi oleh faktor ekonomi, itu benar tapi tidak sepenuhnya betul. Masih ada faktor dominan yang menyebabkan kekerasan tersebut berlangsung salah satunya adalah stigmatisasi perempuan. Stigmatisasi dalam KBBI artinya pelekatan citra negatif oleh lingkungan. Stigmatisasi terhadap perempuan sudah berlangung sejak ZamanRomawi, Yunani hingga saat ini. Mereka menganggap perempuan layaknya barang yang bisa dijual dan dibeli atau bahkan hanya sekedar untuk dipermainkan semata.  Bahkan sehebat apapun Filsuf Sigmund Freud dia tetap menganggap perempuan merupakan manusia yang tidak utuh.Disitulah timbul budaya patriarki yang menempatkan lelaki sebagai yang mendominasi  semua lini baik sosial,ekonomi, budaya, politik, psikologi, hingga hukum. bahkan mungkin saja hidupdan matinya seseorang. Akibat dari dominannya budaya patriarki ini banyak sekali menghadirkan segala jenis ketidakadilan, Lalu bisakah seorang laki-laki melepaskan diri dari belenggu patriarki? Budaya Patriarki sendiri menempatkan perempuan dari subjek berubah menjadi objek. Menurut Rocky Gerung seorang pengajar feminisme dalam tulisannya di Jurnal Perempuan (21/4/2016) yang berjudul “Hermeneutika Kartini” menjelaskan Patriarkisme adalah struktur kekuasaan, dipelihara oleh sistem oligarki, dipatuhi pers karena pertimbangan bisnis, meluas di kampus melalui doktrinasi moral, bahkan dalam berbagai  mitos lokal ia dipelihara sebagai kearifan.

            Lalu bagaimanakah cara mengakhiri  kekerasan dan stigmatisasi terhadap perempuan? Apakah hukum bisa berbuat banyak untuk meruntuhkan dominasi patriarki? Sebagai jangka pendek hukum bisa menanggulanginya tetapi sebagai jangka panjang patut kita pertanyakan, karena selama ini hukum kita belum ramah terhadap perempuan contohnya: penegakkan hukum KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang selama ini diatur didalam KUHP tidak menguntungkan korban. Budaya Patriarki sendiri hanya bisadilawan melalui pendidikan, disinilah pentingnya peran pendidikan sebagai upayaterakhir dan jangka panjang dengan adanya pendidikan kesetaraan gender.  Apakah Di Indonesia sudah ada pendidikan kesetaraan gender? Jawabannya sudah ada namun belum konsisten sehingga masih sering terjadinya bias gender.  Pendidikan kesetaraan gender diperlukan guna tercapainya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, karena stigmatisasi yang melekat terhadap perempuan selama ini hanya mampu bekerja di dapur saja. Cara merealisasikan pendidikan kesetaraan gender iniadalah dengan  meningkatkan mutu dan kualitas pendidik serta konsisten menerapkannya. Bisa kita mulai dari yang paling rendah yaitu sekolah dasar. Kepala sekolah, guru dan juga orang tua menjadi agen perubahan untuk kesetaraan gender, mereka mendukung siswa dan siswi untuk bisa meningkatkan potensinya semaksimal mungkin, sehingga nanti tidak ada yang namanya bagian inihanya mampu dilakukan oleh siswa atau siswi saja tetapi baik keduanya mendapatkan kesempatan yang sama. Diharapkan seorang siswi untuk tidak takut mempunyai cita-cita setinggi langit dan mewujudkannya, begitu juga siswa diharapkan untukmampu bekerja sama dengan siswi tanpa adanya rasa canggung lagi, karena selama ini bahkan hingga sedewasa ini terus saja ada yang mengganggu pemikiran seorang perempuan yaitu, jika mereka mempunyai pendidikan yang terlalu tinggi maka akankesulitan mendapatkan jodoh atau gelar yang diraihnya tidak berguna karenahanya menjadi ibu rumah tangga saja. Perlu kita ketahui semakin tinggi gelaryang didapatkan seorang perempuan maka yang paling beruntung untuk merasakankualitas pendidikan adalah anaknya.

image source: Tribunjogja.com

Banyak sekali yang menganggap pendidikan kesetaraan gender mengakibatkan laki-laki dan perempuan menjadi sama, berdasarkan reflektif penulis kesetaraan gender  dipahami secara kodrati laki-laki dan perempuan tidak bisa sama seratus persen akan tetapi mereka dapat melengkapi satu sama lain. Jika sampai dengan hari ini kita masih ragu dan terus bertanya,”Mungkinkah  kesetaraan gender dapat tewujud?”  R.A Kartini mungkin saja menjawab, “Pasti bisa!”.

Hits: 34

By |2019-01-26T16:15:56+00:00Januari 26th, 2019|Categories: Gender|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.