WASPADA !!! Pemicu Pelecehan dan Kekerasan Seksual. Siapapun Bisa Menjadi Korban

Oleh: Rizanatul Fitri

Pelecehan seksual dan kekerasan seksual kerap menghantui pikiran perempuan yang mayoritas berpeluang menjadi korban. Namun, di era distrubsi sekarang ini pelecehan maupun kekerasan seksual tidak hanya menghantui perempuan, akan tetapi siapapun. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang gila. Prevalensi tingkat kekerasan terhadap perempuan di Indonesia disebutkan mencapai 30 persen. Sedangkan untuk anak-anak jumlahnya lebih besar, yaitu 33 persen.Jumlah prevalensi tingkat kekerasan tersebut dikemukakan oleh Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Sekmen P3A) Republik Indonesia, Pribudiarta Nur Sitepu dalam suatu agenda Pengukuhan Satgas PPA diBrebes, 11 Oktober 2018 (news.detik.com diakses pada 20 Desember 2018).

Di beberapa bulan lalu pada tahun 2018, kekerasanseksual di dunia pendidikan marak terjadi. Misalnya saja siswi SMP yang menjadi korban pemerkosaan 21 orang di Luwu, siswi SD yang menjadi korban pencabulangurunya sendiri dan banyak pula korban kekerasan seksual lainnya yang berakhir tragis. Sungguh miris, dunia pendidikan yang menjadi ranah kemajuan suatu bangsa kian kotor utamanya dengan banyaknya oknum tindak kekerasan seksual yang notabene sebagai seorang pendidik.

Bentuk kekerasan seksual sangat beragam dan dapat terjadi dimanapun. Intimidasi dan eksploitasi perempuan merupakan kasus yang kerap terjadi di seluruh dunia. Sayangnya, kasus kekerasan seksual tidak dapatdi berantas tuntas utamanya di Indonesia. Adanya ancaman dan sudut pandang negatif masyarakat Indonesia terhadap korban kekerasan seksual menjadikan korban kekerasan seksual enggan untuk melaporkan tindak kekerasan yang telah dialami.

Faktor penyebab kekerasan seksual sering dibebankan pada perempuan. Padahal, tidak semua kekerasan seksual berakar dari korban. Besarnya hasrat seksualitas pelaku kekerasan seksual pun tidak luput darifaktor penyebab kekerasan seksual tersebut. Terlalu bebasnya akses dan situs pornografi menjadi salah satu pemicu kekerasan seksual. Selain itu, kesadaran perempuan untuk menjaga harkat dan martabat serta perilakunya dalam bermasyarakat kurang terjaga. Keterpurukan moral dan akhlak menjadikan gagalnya sistem kebebasan dan keterbatasan masyarakat dalam berinterkasi sosial. Perampasan hak dan martabat terhadap perempuan menjadikan perempuan kehilangan kesejahteraan lahir dan batin dalam melangsungkan kehidupannya di masyarakat umum.

Hukum mengenai tindak kekerasan seksual sudah ada sejak adanya Deklarasi Penghapusan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan (ICPD) pada bulan Desember 1993. Di Indonesia, hukum mengenai tindak kekerasan seksual diatur pada pasal 281 KUHP Bab XIV Kejahatan Terhadap Kesopanan. Selain itu, menteriPPA pun ikut andil dalam hal memperjuangkan RUU penghapusan kekerasa seksual menjadi UU. Menteri pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak (PPA) Yohana Yembise mengatakan pihaknya akan memperjuangkan agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera disahkan. Targetnya, RUU tersebut rampung sebelum pergantianmasa jabatan DPR RI. Sejalan dengan hal tersebut, Berdasarkan Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual mendominasi pelaporan kasus kekerasan terhadap perempuan. Catatan tahunan Komnas Perempuan mengungkapkan kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat 25 persen dari 259.150 pada 2016 menjadi 348.446kasus pada 2017. Sementara diperkirakan masih banyak lagi kasus kekerasan yang tidak terlaporkan. (news.detik.com,21/12/2018).

Image Source: liputan6.com

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Slogan tersebut sudah familiar di telinga kita tentunya sebagai masyarakat Indonesia. Slogan tersebut nampaknya sangat pas diasumsikan terhadap tindak kekerasan seksual. Lebih baik mencegah bertambahnya korban kekerasan seksual daripada mengatasi korban kekerasan seksual dengan semestinya. Memang sudah seharusnya korban kekerasan seksual ditangani dengan cara semestinya, penuh perhatian tentunya agar psikologis sang korban kembali pulih. Sang pelakupun harus ditindak dengan seadil-adilnya sesuai dengan hukum yang berlaku dinegara Indonesia agar tercipta efek jera terhadap pelaku sehingga pelaku tindak kekerasan tersebut tidak melakukan hal serupa. Berkaitan dengan slogan diatas, alangkah baiknya jika pencegahan dilakukan guna mempersempit ruang pelaku tindak kekerasan seksual agar tingkat kekerasan seksual di Indonesia berangsur-angsur menurun.

Upaya penghapusan tindak kekerasan seksual sudah seharusnya menjadi kewajiban setiap elemen dan lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Kontrol orangtua untuk memerhatikan apa saja yang di akses oleh anak dengan gadget-nya sangat diperlukan agar tidak tumbuh benih-benih pelaku tindak kekerasan seksual. Penanaman etika dan moral dalam bermasyarakat pun harus diterapkan. Selain itu, kewaspadaan masyarakat terhadappelaku tindak kekerasan harus ditingkatkan. Pendampingan dan support masyarakatterhadap korban pelaku kekerasan pun perlu untuk ditingkatkan. Pendidikan karakter yang kian gencar dan diagung-agungkan pun harus diterapkan dengan semestinya agar anak bangsa Indonesia bukan hanya memiliki kecerdasan danprestasi yang membanggakan namun berjalan beriringan pula dengan moral, etika dan akhlak serta mempunyai budi luhur yang baik. Untuk itu, mari genggam erat tangan saudara kita. Sayangi dan lindungi generasi emas bangsa serta pertebal iman dan kepekaan kita dalam bermasyarakat agar tercipta kesejahteraan dalam berinteraksi sosial oleh siapapun dan dimanapun tanpa terkecuali. Peran pemerintah memang sangat penting utamanya dalam hal penegakan hukum, namun perlindungan yang optimal terhadap korban harus diupayakan secara maksimal.

Hits: 50

By |2018-12-26T22:03:29+00:00Desember 26th, 2018|Categories: Gender|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Saya adalah gadis satu-satunya diantara dua saudara kandung saya. Orang terdekat saya biasa memanggil saya “Riza”. Saya lahir di sebuah desa kecil yang termasuk dalam wilayah kota yang masyhur dijuluki kota bahari tepatnya pada tanggal 18 Februari 1998. Sedari kecil, saya dituntut untuk mandiri. Ayah dan ibu saya sibuk bekerja. Saat saya duduk di bangku kelas 5 SDN Gembong 01, saya harus mengurus adik saya yang berumur 5 tahun. Ayah saya bekerja di Jakarta sebagai tukang kayu dan Ibu saya berdagang di luar kota namun setiap hari pulang ke rumah ba’da dzuhur atau asar. Beranjak SMP, saya bersekolah di SMPN 1 Talang. Adik saya sudah belajar untuk mandiri sehingga ia sudah tidak terlalu bergantung kepada saya. Lanjut ke SMA, saya bersekolah di SMAN 3 Slawi. Perjalanan rumah ke sekolah saya tempuh selama lebih kurang 15 menit menggunakan sepeda motor atau 30 menggunakan angkutan umum. Saat libur SMA, saya bermimpi untuk kuliah di kampus favorit dibawah naungan pemerintah. Saya bekerja keras mencari uang untuk mendaftar biaya les dan biaya pendaftaran kampus termasuk universitas negeri lainnya. Serangkaian tes saya jalani. Namun takdir bekehendak lain, saya gagal masuk kampus impian saya, SNMPTN maupun SBMPTN pun saya gagal. Wal akhir, saya mendaftar UM UNNES dengan pilihan prodi sejarah dan sosiologi serta satu pilihan asal yakni pendidikan bahasa Arab. Tes UM UNNES berakhir, tiap jam sesuai jadwal pengumuman saya buka situs online pengumuman UM namun server selalu saja error. Hingga tepat pukul 12 malam server dapat terbuka dan seketika saya shock sekaligus bersyukur, saya dapat melanjutkan pendidikan saya di Universitas negeri namun dengan prodi yang tidak saya minati. Namun dengan bismillah saya jalani pilihan Tuhan atas takdir saya. Sudah banyak yang saya korbankan namun inilah pilihan Tuhan untuk saya, mungkin ini cara Tuhan merubah saya menjadi pribadi yang lebih baik dengan teman-teman yang ilmu agamanya dalam dibandingkan saya. Hingga kini saya masih bertahan di prodi pendidikan bahasa Arab karena saya sadar bahwa ada teman yang tak seberuntung saya, adapula pula teman yang bernasib sama seperti saya. Selain itu, saya juga sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi pelajaran sekaligus makna kehidupan kepada saya tentang apa yang dinamakan sebuah kerja keras dan pengorbanan serta keikhlasan.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.