Hitam Putih Kaum Minoritas di Yogyakarta

oleh: Siti Faridah

Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang mendapatkan status istimewa/khusus di Indonesia. DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) memiliki ciri khas yang sangat kental dengan perjalanan sejarah serta karakteristik budayanya. Sebagai kota yang majemuk (pluralisme), tak salah Yogyakarta seringkali dianggap sebagai kota yang toleran.

Dibalik 1001 cerita yang mengisahkan kota Yogyakarta, terdapat berita yang mengiris hati mengenai sikap intoleran yang muncul di kota ini. Sebelum kita mengulas mengenai persoalan tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui makna toleransi maupun intoleransi. Toleransi menurut KBBI bermakna sifat atau sikap yang toleran. Sedangkan toleran ialah sikap menghargai terhadap pendirian yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendirian sendiri atau ada yang menyebutkan sebagai suatu kesediaan untuk mentolelir sesuatu. Tollerance iscapacity to endure pain or hardship. Melihat dari definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa berarti intoleran merupakan sikap yang tidak toleran atau berkebalikan dari sikap toleran atau unwillingness to accept views, beliefs, or behavior that differfrom one’s own.

Belakangan ini, muncul berita mengenai sikap intoleran terhadap kaum/golongan minoritas yang terjadi di Yogyakarta. Peristiwa ini sungguh sangat disayangkan dan menimpa salah satu keluargaKatolik yang merupakan golongan minoritas di wilayah tersebut. Berita ini viral berawal dari unggahan Iwan Kamah dilaman facebook-nya yang bercerita tentang pemotongan nisan salib menjadi berbentuk huruf T. Beritatersebut menyebar begitu cepat hingga menjadi perbincangan yang hangat di media sosial. Sikap yang diambil wargasetempat dalam menyikapi peristiwa kematian salah satu penganut agama minoritas di wilayah tersebut memang sungguh sangat disayangkan. Pemotongan nisan salib justru terlihat sebagai bentuk arogansi dan intoleran dalam beragama. Jikadilihat dari sisi sosial, sebagai manusia yang baik seharusnya kita mampu menerima setiap perbedaan. Salah satunya dalam hal perbedaan agama. Kita tidak perlu takut terhadap perbedaan keyakinan atau agama dimasyarakat karena untukmu agamamu dan untukku agamaku. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memeluk suatu agama sebagaimana diatur dalam UUD pasal 28E ayat (1) dimana pasal tersebut berbunyi: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya”. Dalam hal ini, seseorang tidak dapat dikekang atau dibatasi dalam memeluk agama atau menjalani ajaran suatu agama. Karena membatasi hal tersebut sama dengan membatasi hak konstitusional warga negara.

Image Source: Google Images

Kronologis kasus ini terjadi saat meninggalnya Albertus Slamet Sugihardi dan hendak dimakamkan dipemakaman umum Purbayan. Sebenarnya warga mengizinkan keluarga tersebut untuk memakamkan jasad Albertus Slamet Sugihardidi komplek kuburan yang mayoritas kaum muslim (umat islam). Akan tetapi, warga memberikan beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi. Terdapat beberapa persyaratan seperti letak makam yang ditempatkan di pinggir komplek, dilarangnya upacara pemakaman dan doa-doa di kediaman pribadi almarhum sehingga keluarga sepakat untuk memindahkannya ke Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan yang berada di luar desa. Selain hal itu, terdapat pelarangan bentuk simbol salib yang berujung pada pemotongan nisan salib sehingga berbentuk huruf T. Walaupunsemua persyaratan tersebut telah disetujui oleh pihak keluarga yang ditandatangani oleh Maria Sutris Winarni selaku istri dari Albertus Slamet, namun tindakan tersebut menimbulkan keramaian di berbagai media sosial.

Kejadian yang terjadi di desa Purbayan, Kotagede, Yogyakarta yang berakhir viral di media sosial menimbulkan berbagai komentar yang dilontarkan oleh warganetterhadap sikap warga kepada golongan minoritas di wilayah tersebut. Hal inimenimbulkan respon dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengungkapkan permintaan maaf atas insiden pemotongan nisan salib yang terjadi terhadap makam seorang warga bernama Albertus Slamet Sugihardi oleh warga RT 53 RW 13, Purbayan, Kotagede,Yogyakarta yang ia lontarkan saat menggelar jumpa pers di Balai Kota Yogyakarta, Kamis 20 Desember 2018. Ia juga berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari.

Berkaca dari kejadian ini, perlunya penanaman nilai-nilai toleransi terhadap semua masyarakat agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Jangan sampai sikap intoleran menjadi norma yang berlaku di masyarakat. Sikap toleransi merupakan sikap menghargai dan menghormati, ataudalam implementasinya yaitu dimana kita mampu atau memiliki sikap untuk menerima terhadap apa yang orang lain yakini. Kita tidak bisa memaksa oranglain untuk percaya terhadap apa yang kita yakini begitu pula sebaliknya. Seperti halnya sapi. Bagi umat Hindu, Sapi dianggap sebagai hewan suci yang merupakan peliharaan dewa. Sapi dilambangkan sebagai ibu pertiwi yang memberikan kehidupan. Di India, saat sapi berada di rel kereta, kereta berhenti dan mengusir sapi secara halus. Berbeda lagi kasusnya bila terjadi di Indonesia, bila ada sapi di rel kereta maka akan sangat tidak mungkin kereta untukberhenti dan mengusir sapi tersebut. Hal ini merupakan suatu bentuk kepercayaan yang tidak bisa dipaksakan untuk setiap orang dalam meyakini suatu hal yang sama. Tetapi setidaknya setiap orang dituntut untuk bisa menghargai dan menghormati atas keyakinan orang lain.

Maka dari itu, diperlukan sikap toleransi terhadap umat beragama agar tercipta keharmonisan di masyarakat. Gusdur pernah mengungkapkan bahwasannya “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu” pernyataan ini mungkin sering kita dengar sebelumnya. Melihat dari pernyataan ini dapat diketahui bahwasannya berbuat baiklah yang paling utama. Apa salahnya kita menghormati kaum atau penganut agama lain layaknya kita ingin dihormati.

Melihat dari kejadian ini, hati saya sungguh miris. Saya membayangkan bagaimana jadinya bila saya dan keluarga saya yang merasakan hal seperti itu. Apa salahnya kita bertoleransi di bidang kemanusiaan? Apa salahnya kita menghargai orang yang meninggal sebagai bentukpenghargaan terakhir dengan tidak menyulitkan prosesnya? Bahkan Nabi Muhammad saja mengajarkan kita untuk berbuat baik terhadap semua manusia tanpa memandang agama, suku, ras ataupun hal yang lainnya. Lalu kenapa kita bisa intoleran? Ketakutan apa yang menghantui kita selama ini? Semoga kejadian seperti ini, menjadi kejadian terakhir sekaligus penutup dalam kasus-kasus intoleran yang terjadi di Indonesia.

Hits: 41

By |2018-12-26T22:30:33+00:00Desember 26th, 2018|Categories: Minoritas, Toleransi|Tags: , , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.