Pembawa Perdamaian yang di-Diskriminasikan

 

Oleh: Jerico Mathias

Pada dasarnya agama merupakan sarana terbesar untuk menciptakan tata tertib di dunia dan kebahagiaan yang sentosa bagi semua yang berada didalamnya. Setiap agama sudah pasti memiliki prinsip, ajaran, hukum dan kewajiban bagi pemeluknya, setiap pemeluk agama diwajibkan untuk selalu mentaati seluruh komponen yang ada didalam agama tersebut untuk mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Konsep agama sendiri secara etimologis yang di ambil dalam bahasa sansekerta yaitu A=tidak GAMA=kacau, kocar-kacir, berantakan jika disatukan menjadi AGAMA=tidak kacau, tidak kocar-kacir, tidak berantakan, atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu. Kemudian melihat konsep agama secara terminologis, yaitu agama merupakan aturan atau tata cara hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.

Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang termaktub dalam ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila dalam Sila Pertamanya yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sejumlah agama di Indonesia sangat berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi, dan budaya. Kemudian diturunkan ke dalam Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Pasal 29 berbunyi : (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Dengan melihat dan memaknai ideologi dan konstitusi tersebut, sudah seharusnya semua agama yang tinggal dan hidup di dalam masyrakat harus di lindungi oleh negaranya sendiri dan menjamin warga negaranya yang memeluk agamanya tersebut.

Banyaknya agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia yang menurut hukum termaktub dalam Undang-Undang PNPS 1965 hanya ada 6 agama yang di akui oleh Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu menjadi adanya keberagaman dan keberagaman merupakan suatu keindahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa dengan menciptakan juga beberapa keberagaman itu dengan adanya berbagai suku, ras, budaya dan agama. Seharusnya dengan keberagaman ini membuat hidup saling mendampingi dan melengkapi satu dengan sama lainnya. Bukan menjadinya pertikaian atau perselisihan yang selalu mudah menjadi alat untuk membuat perpecahan yangterjadi di negeri ini. Semua agama selalu mengajarkan kebaikan dan menyebarkan kasih kepada sesama manusia dan tidak ada agama manapun yang dianut oleh manusia yang menyuruh umatnya untuk tidak berbuat kebaikan kepada sesama manusia maupun kepada yang lainnya. Sama hal dengan agama Baha’i yang merupakan agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain dengan utusannya yaitu Bahaullah yang di utus sebagai pembawa wahyu agama Baha’i dan lahir di Persia pada tahun 1817 dari keluarga bangsawan. Beliau membawa misi ilahiah dari Tuhan bagi umat manusia tentang telah tibanya Zaman Baru di hadapan umat manusia. Dia mengajarkan bahwa saat ini manusia secara kolektif telah berada dalam ambang kedewasaannya, suatu zaman yang secara bertahap namun pasti akan menyaksikan penyatuan umat manusia.

Bahaullah mengajarkan berbagai prinsip rohani dan konsepsi yang diperlukan umat manusia agar perdamaian manusia yang sangat di idam-idamkan dapat tercapai. Bahaullah juga meletakkan 3 (tiga) pilar utama kesatuan, yakni keesaan Tuhan, kesatuan sumber surgawi dari semua agama, dan kesatuan umat manusia. Sebuah konsepsi “kesatuan dalam keanekaragaman”. Beberapa ajaran yang berporos kepada ketiga pilar tersebut ialah pencarian kebenaran secara mandiri; keselarasan antara agama dan ilmu pengetahuan; penghilangan segala bentuk prasangka seperti agama, ras kebangsaan, dan kelas sosial; penyesalan masalah ekonomi secara rohani; kesetaraan antara perempuan dan laki-laki; musyawarah dalam segala hal; dan kesetiaan kepada  pemerintah.

image Source: Dokumentasi Pandai Semarang

Semua utusan Tuhan yang membawa wahyu-Nya yang kudus memang akan mengalami tantangan dan siksaan sepanjang hidup-Nya dan selalu berakhir dengan penderitaan seperti juga halnya agama Bahai yang utusannya yaitu Bahaullah yang berakhir menderita di dalam penjara bawah tanah, dirantai, disiksa, diusir dan dihina serta dikucilkan di empat negeri yang berbeda sehingga Bahaullah wafat di kotapenjara ‘Akka’ pada tahun 1892. Namun karena kebenaran wahyu-Nya dan ajaran-Nya yang tidak dapat ditutupi lagi, semua orang semakin tertarik dengan ajaran-Nya dan mengenal keagungan-Nya membuat agama-Nya tersebar ke seluruh dunia. Abdu’l-Baha yang anak dari Bahullah yang meneruskan ajaran Baha’i. Diperkirakan, Abdu’l-Baha telah menulis lebih dari 27.000 karya umumnya yang berbentuk surat dan hanya sebagian kecil yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Baha’i sendiri telah berada di Indonesia penyebaran agama Baha’i sudah ada sekitar tahun 1878 dibawa oleh Jamal Effendy & Mustafa Rumi seorang pedagang Persia & Turki dan tersebar ke daerah-daerah lainnya. Kemudian ajaran Baha’i sempat masuk dalam daftar organisasi dilarang pada era Presiden Soekarno melalui Keppres No.264/1962. Setelah beberapa pergantian Presiden pada akhirnya Presiden Abdurrahman Wahid atau biasanya disapa Gus Dur yaitu Presiden Indonesia ke-4 yang biasa disebut Gus Dur mencabut Keppres No.264/1962 dengan Keppres No.69/2000 bahwa negara mengakui secara konstitusi keberadaan ajaran Baha’i serta mempersilahkan menjalankan aktivitas keagaamannya. Dengan demikian walaupun secara konstitional keberadaan ajaran Baha’i tidak bermasalah. Meskibelum bisa diakuinya dalam KTP, penganutnya dapat menjalankan aktivitas keagamaannya. Gus Dur juga pernah hadir dalam pertemuan para penganut Baha’i pada tanggal 21 Maret 2000 silam di Menteng, Jakarta Pusat.

Pada tanggal 14 Desember 2018 di suatu daerah Pati, Jawa Tengah, Komunitas Pendidikan Perdamaian Indonesia Semarang ataubiasa disingkat PANDAI SEMARANG yang bekerjasama dengan Tolibun.com yang memiliki kegiatan yaitu “Livin In” yang tujuannya hidup bersama kelompok rentan di Jawa Tengah, pada kesempatan ini hidup bersamanya tinggal di tengah-tengah masyarakat Baha’i. Sebelumnya penulis sangat berterimakasih telah diberikan kesempatan bertemu dengan masyarakat Baha’i dalam kegiatannya adanya beberapa sesi diskusi, nonton film, dan berkunjung ke beberapa penganut Baha’i di sekitar daerah Pati tersebut. Penulis juga berkesempatan berdiskusi dengan salah seorang penganut Baha’i tersebut dan dalam diskusi itu ditunjukan KTP yang diberikan tanda strip (-) oleh Pemerintah, penulis baru pertama kali melihat adanya KTP yang diberikan strip (-) tersebut karena penulis hanya melihat diinternet saja. Walaupun banyaknya kasus diskriminasi sampai pernah diancam oleh penganut agama garis keras dengan ancaman pengusiran dan bahkan sampai ada ancaman pengeroyokan kepada masyarakat Baha’i di Pati, mereka tetap setia dan tetap mengabarkan ajaran-Nya. Sampai saat ini  juga lokasi sebenarnya masih dirahasiakan karena dikhawatirkan adanya ancaman mendatang.

image Source: Dokumentasi Pandai Semarang

Menurut hemat penulis Agama Baha’i telah empat tahun memperjuangkan agamanya, akan tetapi Mahkamah Konstitusi mengabulkan putusannya yang mengabulkan pencantuman kolom KTP kepada penghayat kepercayaan saja. Seharusnya pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan kepada masyarakat penganut agama Baha’i di Pati, dan Indonesia secara keseluruhan. Pemerintah juga diharapkan mengabulkan dibuatkannya agama Baha’i dalam kolom KTP masyarakat Baha’i tersebut agar terciptanya admnistrasi yang baik. Karena dalam ideologi dan konstitusi di negara ini telah dijelaskan agar setiap penganut agama dapat dijamin oleh negara Indonesia

Hits: 126

By |2018-12-22T20:19:28+00:00Desember 22nd, 2018|Categories: Minoritas|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.