Kekerasan Seksual di Kampus Hampir tak Terendus

Habis gelap terbitlah terang. Kata-kata itulah yang sampai saat ini selalu didengung-dengungkan untuk meninggikan derajat kaum perempuan. Memang dahulu kala kaum perempuan pernah mengalami deskriminasi. Mereka dianggap lemah dan hanya pantas bekerja di dapur. Namun setelah era Kartini, belenggu yang pernah mengekang kaum perempuan sejak saat itu telah hilang dikikis oleh perjuangan seorang kaum perempuan, Kartini. Dari kisah Kartini, kita tahu bahwa kaum perempuan adalah kaum yang hebat. Kartini mampu menepis pandangan kolot yang menimpa kaum perempuan.

Sejak saat itu orang-orang menyebut dengan adanya emansipasi wanita. Banyak kaum perempuan yang memulai pendidikan, bekerja diluar, dan bahkan menjadi pemimpin. Semuanya diperoleh karena jasa R.A Kartini. Bahkan jika bukan karena sosok Kartini, mungkin saat ini penulis tidak bisa menuangkan pikiran ke dalam tulisan ini dan dituntut untuk melakukan pekerjaan dapur saja. Hingga saat ini emansipasi benar-benar dirasakan dampaknya oleh kaum perempuan. Buktinya banyak kaum perempuan yang menjadi pilot, TNI, kepala sekolah, hakim, bahkan dalam sejarah kepresidenan Indonesia, tercatat Indonesia pernah mengalami era dimana negara ini dipimpin oleh seorang perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kaum perempuan tidak bisa diremehkan lagi.

Namun semakin menguatnya emansipasi wanita di era globalisasi, penilaian lemahnya seorang perempuan belum sepenuhnya hilang. Mereka yang menganggap perempuan lemah secara semena-mena menghina, mencaci, melecehkan, hingga menyiksa kaum perempuan. Tak perlu memperbincangkan di luar sana. Hanya dengan mengupas kisah-kisah kelam kaum perempuan yang ada di Indonesia saja mungkin tak cukup waktu untuk mengungkapnya. Tercatat oleh Komnas Perempuan sebanyak 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan dilaporkan danditangani pada tahun 2017. Belum lagi kasus-kasus yang enggan dilaporkan oleh korban.

Salah satu bentuk dari kekerasan terhadap perempuan yaitu kekerasan seksual. Kasus kekerasan seksual hampir setiap hari kita dengar dari televisi, kita membacanya dari media elektronik, media cetak, bahkan kitatahu dari lingkungan terdekat kita sendiri yang mungkin pernah menjadi korban. Terbukti Komnas Perempuan mencatat selama tahun 2001 hingga 2012 setidaknya ada 35 perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Kemiskinan, korupsi, narkoba, rasanya masih belum cukup untuk menghancurkan bangsa ini. Mereka yang dibutakan oleh nafsu duniawi masih belum puas apabila belum menghancurkan kaum yang akan melahirkan generasi pembaharu bangsa di masa yang akan datang.

image source: tempo.co

Bahkan baru-baru ini berita menggemparkan datang dari kampus ternama di Indonesia yang ternyata banyak mahasiswinya yang mengalami kasus pelecehan seksual. Berita baru mencuat ketika ada mahasiswi yang berani memperjuangkan haknya meskipun mahasiswi tersebut sempat mendapatkan sanksi dari pihak kampus karena dinilai telah mencoreng nama baik kampus tersebut. Tidak hanya datang dari kampus negeri itu, kasus pelecehan seksual juga banyak dialami mahasiswi di kampus lain. Pelecehan seksual terjadi di mobil, di rumah dosen, bahkan terjadi ketika mahasiswi sedang bimbingan. Sejak tahun 2000 hingga 2015 ada 214 kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh tenaga pendidikan(Anissa, 2016).

Tempat yang seharusnya penuh dengan ilmu dan pembelajaran, ternyata juga menjadi sasaran empuk manusia-manusia biadab yang berlindung di balik nama profesinya yang mulia itu. Bahkan para tendik yang telah melakukan pelecehan seksual seringkali mengancam mahasiswi dalam berbagai bentuk apabila mahasiswi melaporkan perbuatan keji tersebut. Tidak hanya pelaku, pihak kampus juga turut memberi sanksi terhadap korban karena dinilai telah mencoreng nama baik kampus. Inilah yang membuat kasus-kasus pelecehanseksual di kampus tak terendus hingga pada akhirnya tersingkap banyak fakta ketika Agni, seorang korban pelecehan seksual kampus ternama berani angkat bicara dan melaporkan kekerasan seksual yang telah menimpanya pada saat KKN. Bahkan narahubung Agni, Natasya mengatakan bahwa kasus pelecehan seksual di kampus ternama tersebut tidak hanya satu, namun masih banyak lagi yang menjadi korban hanya saja mereka takut menyuarakannya.

Permasalahan kekerasan seksual telah diatur oleh pemerintah melalui beberapa regulasi, yaitu dalam KUHP terdapat dalam pasal 281, pasal 285, pasal 286, dan 289. Dalam pasal-pasal tersebut pula telah diaturpidana yang dikenakan terhadap pelaku yang melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan. Selain itu Komnas Perempuan juga sudah memiliki RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual yang belum lama ini menuai dorongan dari masyarakat untuk segera disahkan menjadi Undang-Undang. Dorongan tersebut salah satunya dilakukan oleh masyarakat dengan menggelar aksi di depan Istana Merdeka menggunakan atribut berupa payung hitam guna mendesak DPR agar segera mengesahkan RUU. Aksi ini dilakukan pada tanggal 8 Desember 2018. Hal inimenunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di Indonesia berada dalam keadaan darurat sehingga masyarakat turut turun ke jalan guna menghilangkan kasus kekerasan seksual. Penulis sangat sepakat agar RUU PKS ini harus segera dilaksanakan untuk menindak lanjuti berbagai kasus yang marak terjadi.

Meskipun pemerintah telah memiliki regulasi, namun sangatdisayangkan dengan banyaknya kasus kekerasan di kampus menunjukkan bahwa kampus kurang mampu menyelesaikan permasalahan krusial ini. Bahkan sejumlah kampus belum memiliki SOP dalam menyelesaikan kasus mengenai kekerasan terhadap perempuan. Hal ini harusnya menjadi tindak lanjut kampus mengingat kampus merupakan majelis ilmu yang suci. Bahkan tempat pendidikan ini sudah dianggap sebagai rumah kedua bagi para mahasiswa. Orang tua telah mempercayakan kampus sebagai tempat yang aman danakan mengantarkan anak-ananknya ke masa depan yang cerah, bukan malah masadepan yang suram. Kampus seharusnya memberikan pelayanan yang baik bagi korbanagar mereka berani untuk melaporkan kasus kekerasan seksual yang telah menimpakorban.

Penyebab dari maraknya kekerasan terhadap perempuan sebenarnya dikarenakan pemikiran yang masih belum terbuka akan pentingnya menghormati perempuan. Banyak orang yang masih menganggap kaum perempuan itu lemah dan tidak berdaya sehingga hal tersebut menyebabkan mereka berbuat semena-mena terhadap perempuan. Padahal seorang perempuan merupakan manusia mulia yang diharapkan akan melahirkan generasi-generasi baru yang mampu merubah wajah Indonesia yang lebih baik. Namun apa yang dapat kita harapkan apabila calon-calon ibu generasi pembaharu telah dirusak oleh pemikiran yang lahir dari nafsu kehewanan kaum lelaki? Kaum lelaki seharusnya dapat menjadi pelindung, bukan malah perusak kaum perempuan. Sebagai kepala rumah tangga ataupun calon kepala rumah tangga mestinya mereka tahu apa yang seharusnya mereka perbuat dan apa yang seharusnya mereka hindari. Kaum perempuan selalu menghormati kaum laki-laki dengan peranannya masing-masing. Tetapi pada kenyatannya banyak kaum lelaki yang tega memperlakukan perempuan secara biadab. Padahal kaum laki-laki ada juga karena terlahir dari rahim perempuan.

Hits: 156

By |2018-12-21T16:06:09+00:00Desember 21st, 2018|Categories: Gender|Tags: , , , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.