Banyaknya Kekerasan di Ranah Privat Incest Terhadap Anak Perempuan

Oleh: Nila Andriyana

Kelahiran seorang anak merupakan sutu keistimewaan dan kelengkapan yang dimiliki keluarga harmonis. Keluarga merupakan tempat untuk mendidik dan membesarkan anak, tempat dimana anak mulai mengenal lingkungan sekitar dan tempat dimana seorang anak dikenalkan dengan hal-hal baru agar anak tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang baik. Memang pada dasarnya anak memerlukan perlindungan atas rasa aman dan kasih sayang dari keluargannya, anak merupakan mahluk yang belum memililiki kedewasaan dan belum tau banyak tentang dunia luar menurut KBBI anak merupakan manusia yang masih kecil. Dengan begitu keluarga merupakan tempat pertama untuk mendidik dan mengajarkan anak dengan hal-hal yang positif jika anak melakukan kesalahan maka orang tua harus menasihatinya dan memberi contoh yang baik dan benar akan tetapi kebanyakan dari orang tua memarahi anaknya dan memberi hukuman yang kurang mendidik sehingga banyak anak mengalami kekerasan fisik maupun seksual.

Dalam kekerasan seksual banyak dirasakan oleh anak perempuan hal tersebut dilakukan oleh pelaku yang merupakan orang terdekat yang masih memiliki hubungan darah seperti ayah, paman dan anggota keluarga lainnya. Menurut CATAHU (Catatan Tahunan) Komnas Perempuan ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2016 di tahun yang berbeda meningkat secara signifikan yaitu ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani di tahun 2017. Ditahun 2016 kekerasan pada anak perempuan menduduki angka ke tiga yaitu sebanyak 1.799 (17%) setelah kasus pacaran dan disusul tahun 2017 kasus kekerasan terhadap anak perempuan mencapai 2.227 kasus menduduki ke dua setelah kekerasan terhadap istri. Kekerasan anak perempuan yang paling banyak diranah privat incest (pelaku merupakan orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga). Hal seperti ini akan membuat anak semakin tertekan dengan adanya kekerasan terhadap anak perempuan yang dilakukan oleh anggota keluargannya sendiri. Seharusnya keluarga memberi keharmonisan dan memberi kenyamanan terhadap ruang gerak anak agar mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Adanya kekerasan psikis, fisikdan seksual terhadap anak perempuan akan membuat anak trauma yang mengakibatkan keluarga merupakan tempat yang sudah tidak diinginkan lagi oleh seorang anak.

Temuan dalam Catatan Tahunan 2018 pelaku kekerasan ayah kandung sebanyak 425orang kemudian di angka ke tiga ada paman sebanyak 322 orang. Banyaknya pelakuayah kandung dan paman selaras dengan meningkatnya kasus incest. Menurut Handayani (dalam Syahrir, 2000) kekerasan adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang sehingga dapat merugikan salah satupihak yang lemah.

Menurut UNICEF bahwa anak yang sering dimarahi oleh orang tuannya diikuti dengan penyiksaan cenderung akan meniru perilaku buruk orangtuannya dampak kekerasan psikis ini membuat anak cenderung lebih minder, merasa dirinya tidak berharga dan kesulitan dalam membina hubungan. Kekerasan fisik yang biasanya dilakukan oleh orang tua akan menimbulkan anak lebih agresif dan cenderung membekas luka yang serius pada anak bahkan bisa mengalami kematian. Tidak hanya kekerasan psikis dan fisik yang membuat anak merasa tidak dihargai lagi dalam keluarga, kekerasan seksual padaanak juga akan menimbulkan rasa trauma dan menyimpan dendam dengan pelakubahkan anak akan merasakan ketakutan yang berlebihan. Anak yang menerima perlakuan kekerasan seksual cenderung diam dan tidak melawan mereka enggan untuk melaporkan perbuatan pelaku ke lingkungan sekitarnya dan kepihak yang berwenang. Oleh sebab itu hukum memberi Perlindungan terhadap anak yang diatur dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atasUndang-Undang Nomor 23 tahun 2002 perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mandapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Tujuan undang-undang anak untuk menjamin pemenuhan hak-hak kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi anak dan menjamin anak dari tindakan perlakuan tidak patut termasuk kekerasan, pelantaran, dan eksploitasi. Anak perempuan dianggap cenderung lemah dan penakut karena anak perempuan di didikbukan untuk menjadi seorang pemimpin melainkan menjadi ibu yang baik oleh sebabitu anak harus patuh, mengikituti setiap perkataan orang tua dan tidak boleh menolak perintah dari orang tuannya. Kerap sekali kekerasan terhadap anak perempuan dirasa sudah merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan anak agar anak menaati segala peraturan dan patuh dengan orang tuannya akan tetapi hal tersebut tidak efektif karena akan menimbulkan dampak negatif terhadap anak dan akan menimbulkan banyak kasus kekerasan terhadap anak perempuan.

image source: onlinebusiness.sg

Kasus kekerasan terhadap anak perempuan masih banyak di jumpai dalam lingkungan sekitar kita seperti yang dialami seorang gadis berusia 15 tahun di kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, menjadi korban kekerasan seksual ayah kandung dan pamannya hingga hamil. Kasus ini awalnya terkuak dari kecurigaan tetangga yang melihat perut korban membuncit dan setelah ditanya korban mengaku bahwa sering dipaksa bersetubuh dengan ayahnya sendiri selain ayahnya ternyata pamannya melakukan pelecehan seksual terhadap korban dengan hal yang serupa.

Pentingnya pembekalan terhadap anak dan orang tua agar mereka bisa berinteraksi dengan baik dan membekali keterampilan melindungi diri untuk menempuh masalah kekerasan den ganpenyelesaian preventif (pencegahan) dan kuratif (penanggulangan) yaitu dengan cara setiap orang tua diberi pengetahuan dan keterampilan dalam mendidik anak  tanpa adanya unsur kekerasan memberi pemahaman dan gambaran tentang kehidupan sosial membekali anak dengan pendidikan dan berbagai keterampialan dalam sosialisasi. Orang tua harus memperhatikan setiap perkembangan dan ruang gerak anak untuk memberi dukungan emosional ketika anak mengalami ketakutan dengan adanya dukungan emosional sangat membantu mengurangi rasa takuat pada anak. Pengawasan orang tua terhadap lingkungan bermain anakmerupakan pencegahan preventif untuk meminimalisir kekerasan terhadap anak perempuan memberi kesempatan untuk anak berkomunikasi dialogis dengan orang tua agar anak bisa mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Hits: 81

By |2018-12-21T16:44:00+00:00Desember 21st, 2018|Categories: Gender|Tags: , , , |0 Comments

About the Author:

Mahasiswa Fakultas Hukum

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.