Problematika Pernikahan Anak Sebagai Bahaya Nyata Pemicu Tindak Kekerasan terhadap Perempuan

Oleh: Tri Sandi Ambarwati

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah provinsi sebanyak 34, dengan banyaknya jumlah provinsi ini tentunya melahirkan banyak pula budaya yang tersebar di setiap provinsinya, budaya di Indonesia pun beragam, mulai dari budaya yang mengatur adat istiadat ketika seseorang lahir ke dunia hingga adat istiadat menguburkan seseorang yang telah meninggal dunia. contoh satu saja adat istiadat di Indonesia yang pada tiap provinsinya memiliki ke-khasan tersendiri, yaitu adat pernikahan, dari ujung Sabang hingga ujung Merauke banyak ditemuinya perbedaan serta keberagaman yang tercipta diantaranya.

tersebar di setiap provinsinya, budaya di Indonesia pun beragam, mulai dari budaya yang mengatur adat istiadat ketika seseorang lahir ke dunia hingga adat istiadat menguburkan seseorang yang telah meninggal dunia. contoh satu sajaadat istiadat di Indonesia yang pada tiap provinsinya memiliki ke-khasan tersendiri, yaitu adat pernikahan, dari ujung Sabang hingga ujung Merauke banyak ditemuinya perbedaan serta keberagaman yang tercipta diantaranya.

Namun, di erayang sekarang ini kehidupan yang mengatur mengenai pernikahan memang diwarnai begitu macam dilematis, seperti ketimpangan usia pada pernikahan, sehingga menjadi faktor utama meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan perceraian pada pasangan muda, dalam faktanya terdapat kasus seoranganak perempuan menikah dengan sesama “anak-anak” lelaki, atau seorang anakperempuan malah menikah dengan laki-laki yang sudah dewasa atau bahkan laki-laki lansia. Sungguh ironi mendengar kasus ini terjadi, apalagi usia anak-anak yang seharusnya digunakan untuk pengoptimalan minat serta bakat, malah direnggut dengan adanya pernikahan dini yang melibatkan anak-anak tersebut yang belum cukup umur untuk menjadi subyek hukum yang hakiki, sehingga dalam hal inidapat menyebabkan beberapa dampak yang timbul diantaranya yaitu terhambatnya akses pendidikan serta terhambatnya perkembangan dan perlindungan hukum yang mengatur fisik, psikis dan sosial anak serta pemenuhan hak-hak untuk anak.

Di Indonesia masalah perkawinan diatur dalam Undang-Undnag Perkawinan No. 1 Tahun 1974, yang mulai diundangkan pada tanggal 2 Januari 1974. Dimana sudah tertera dengan jelas mengenai definisi dan tujuan dalam Pernikahan yang tertuang di Pasal 1yang berbunyi, “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dilihat dari tujuan perkawinan dilangsungkan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, ini berarti dalam perlangsungan perkawinan harus didadasari atas tujuan yang jelas sesuai dengan pasal ini, agar tidak berdampak buruk bagi si pelaku perkawinan nantinya, apalagi perkawinan yang dilakukan oleh anak-anak yang belum cukup umur.

Namun dalam Januari 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) mengeluarkan  laporan bahwa salah satu provinsi yang memiliki angka pernikahan anak tertinggi adalah Sulawesi Selatan. Data BPS pada Tahun 2015, melalui Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang berisikan angka pernikahan di bawah usia 18 tahun mencapai 22,82 persen. Lima provinsi dengan angka prevelensi terbesar yakni Sulawesi Barat (34,22 persen), Kalimantan Selatan (33,68 persen), Kalimantan Tengah (33,56 persen), Kalimantan Barat (33,21 persen), dan Sulawesi Tengah (31,91 persen).

Berbicara mengenai pernikahan dini, dalam tulisan ini penulis akan membahas sisi pernikahan dini dari sudut pernikahan yang melibatkan antar anak perempuan dengan anak laki-laki. Namun, melihat dari dampak negatif yang ditimbulkan, masalah pernikahan yang terjadi pada anak-anak seringkali merugikan bagi diri si anak perempuan,disini dalam keadaan terpaksa ataupun secara sukarela, anak perempuan dalam pernikahan dini menjadi korban dalam tindak kekerasan, baik yang dilakukan olehorang tua korban yang telah memaksa pernikahan untuk dilangsungkan, maupun oleh suami dari korban kelak yang nantinya belum dapat mengontrol emosinya denganbaik.

Beberapa faktor yang timbul dalam pernikahan anak, seperti tidak adanya kesempatan kerja, rendahnya pendidikan, masalah kemiskinan, dan lagi-lagi masalah kurangnya informasi tentang perkembangan dunia sekitar, berbicara mengenai perkembangan dunia, dalam satu dekade ini dunia telah mengalami perkembangan secara cepat dimana hal yang telah menjadi kebiasaan (custom) dalam sebuah masyarakat adat telah sedikit banyak mengalami pergeseran karena dianggap telah kuno oleh masyarakat adat yang telah mengikuti tren perkembangan zaman. Sehingga faktor-faktor ini justru membuat si anak perempuan menderita karena akibat yang ditimbulkan dari pernikahan anak mayoritas disebabkan belum matangnya psikologis dari kedua pasangan, ketika terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka mayoritas yang dilakukan si suami adalah melakukan kekerasan mengingat pengontrolan emosi, perasaan, dan pemikiran pada usia anak-anak masih belum stabil.

Bahwa menurut Elizabeth B. Hurlock: 2005, seseorang telah memasuki usia dewasa, pada dasarnya terlihat dari kemampuan seseorang dalam menerima emosi dan juga menguasai emosi dengan sewajarnya, sekaligus dapat meluapkan emosi pada tempat dan waktunya secara tepat, secara emosional seseorang telah menginjak usia dewasa pada umur18-40 Tahun. Ini artinya, anak-anak yang menikah pada rentan usia dibawah 18tahun dapat dikategorikan sebagai manusia yang belum dapat mengontrol emosinya secara stabil.

image source: ahmad yani credit EPA-EFE Beritatagar

Lagi-lagi dalam menanggapi kasus pernikahan dini ini, kembali lagi kita harus memaknai arti dari sebuah pernikahan, Ketika suatu peristiwa sakral yang hendaknya terjadisekali seumur hidup, harus benar-benar ditunaikan secara sukarela, suka samasuka, serta tanpa ada unsur paksaan. Pernikahan juga bukan hanya sekedar tentang sebuah pesta dan kesenangan belaka, pernikahan merupakan peristiwa mempersatukan kedua insan permpuan dan laki-laki dalam satu ikatan suci untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia, sehat, serta harmonis.

Dengan berbagai pengalaman yang ada, hal ini membuktikan bahwasanya pernikahan pada anak memberikan banyak dampak negatif yang terjadi karena faktor biologis serta emosional dari para pasangan pernikahan yang belum stabil, sehingga kemungkinan besar akan mengarah pada kekerasan yang merugikan korban yakni si anak perempuan. Dalam kasus pernikahan dini kita mendapat banyak pelajaran, bahwa penerapan pernikahan dini sudah seharusnya dikecam dan mendapat perlawanan dari seluruh elemen masyarakat untuk mencegah lebih banyaknya tindak kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan nantinya, dan tentunya membawa generasi-generasi masa kini kearah kemajuan dalam berpola pikir untuk meciptakan generasi-generasi Indonesia yang lebih baik.

Hits: 50

By |2018-12-20T17:36:14+00:00Desember 20th, 2018|Categories: Gender|Tags: , , , |0 Comments

About the Author:

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang angkatan 2017, masih dalam tahap belajar menulis dan ingin terus belajar menulis, karena tulisan adalah karya abadi dalam hidup.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.