Jemaat Ahmadiyah Indonesia: Minoritas Abu-abu Tanpa Adanya Kepastian Hukum

Oleh : Faisal Akbar

Keberagaman merupakan suatu keindahan. Tuhan menciptakan manusia berbeda suku, ras, agama, budaya, warnakulit, dan sebagainya supaya manusia saling mengasihi dalam perbedaan dan mengambil hikmah dari banyaknya keragaman yang ada. Ironisnya, perbedaan itu tak jarang membuat manusia saling membenci, menghujat, bahkan menyakiti satusama lain, dan membuat mereka lupa fitrah mereka sebagai manusia adalah untuk bermanfaat bagi sesama. Kelompok minoritas adalah sekumpulan individu yang sering mendapatkan perilaku tidak adil dari orang-orang di sekitarnya. Salahsatu minoritas yang mendapat diskriminasi hingga kini adalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Ahmadiyah sendiri merupakan gerakan keislaman yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889.

Image Source: belitongekspres.co.id

Jemaat Ahmadiyah Indonesia dibubarkan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Nomor : 3 tahun 2008 oleh Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. Dalam Surat Keputusan tersebut, orang-orang yang terikat dengan organisasi Ahmadiyah diperintah untuk berhenti menyebarkan penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok ajaran islam karena dianggap telah melanggar pasal 1 Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama yang berbunyi, “Setiap orang dilarang dengan sengaja dimuka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Bila dicermati lebih dalam, banyak ketidakadilan yang diterima oleh kelompok minoritas ini. Yangpertama, pembubaran kelompok Jemaat Ahmadiyah yang tidak sesuai prosedur hukum. Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1965 pasal 2 ayat 2 berbunyi,“Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat(1) dilakukan oleh organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka presiden republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, satu dan lain setelahpresiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.” Namun pada kenyataannya, surat keputusan yangdikeluarkan bukanlah surat keputusan presiden yang disetujui Menteri Agama,Jaksa Agung, dan Mendagri, melainkan surat keputusan bersama Menteri Agama,Jaksa agung, dan Mendagri yang jelas-jelas tidak sesuai dengan prosedur hukum yang disepakati.

Yang kedua, sejumlah ketidakadilan sering diterima oleh jemaat penganut ahmadiyah di Indonesia secara fisik. Data statistik yang diberikan oleh nasional. tempo memaparkan adanya rentetan kekerasan yang diterima jemaat Ahmadiyah sejak tahun 2011, mulai dari penyerbuan ke tempat ibadah oleh FPI di Makassar, penyerangan ribuan warga terhadap jemaat ahmadiyah yang menimbulkan 3 korban jiwa, penyegelan Masjid milik ahmadiyah di Bogor, hingga rumah milik salah satu tokoh Ahmadiyahyang dilempari batu di Tasikmalaya. Ketidakadilan tersebut diterima hingga saati ni. Kelompok Ahmadiyah tetap dianggap sebagai kelompok sesat yang harus dibasmi dan dikucilkan. Pemikiran tersebut tentunya menunjukkan betapa nilai-nilai toleransi di Negara Indonesia terbilang rendah. Tindakan-tindakan yang diberikan pada kelompok minoritas ini secara langsung telah menodai Pasal 27 ayat (1), Pasal28E ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28 1 ayat (1) dan ayat (2), Pasal28D ayat (1), Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berdasarkan informasi yang dipaparkan oleh BBC Indonesia, Ahmadiyah sejatinya tidak seburuk yang dipikirkan oleh khalayak. Kekhalifahan Ahmadiyah tidak melakukan gerakan-gerakan politik yang mengancam eksistensi kekuasaan pemerintah. Ahmadiyah juga menyatakan bahwa mereka berada di garis depan menolak gerakan terorisme. Dalam kegiatan non-keagamaan, kelompok Ahmadiyah memberikan banyak kontribusi, seperti mendonorkan darah, bantuan kemanusiaan, dan bantuan terhadap korban bencana. Bahkan pada tahun 2017, Museum Rekor Indonesia memberikan penghargaan kepada JAI karena secara berkesinambungan mendonorkan kornea mata. Bila anda pernah mendapatkan bantuan mata, mungkin saja itu berasal dari salah satu penganut Ahmadiyah.

Image Source: wajibbaca.com

Menanggapi banyaknya kasus ketidakadilan yang diterima oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia, ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan. Pertama, memperkuat atau meningkatkan status legal SKB Ahmadiyah. Poin penting dari SKB Ahmadiyah yang sering tidak diindahkan adalah perintah kepada masyarakat dengan tidak melakukan perbuatan melawan hukum terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia. SKB bisa diperkuat menjadi Keputusan Presiden, atau bahkan Undang-Undang. Kedua, penegakan hukum. Sisi masalah Ahmadiyah sebagai korban belum ditanganidengan baik. Penanganan kekerasan sebetulnya adalah bagian termudah dari seluruh isu ini, karena di sini tak ada wilayah abu-abu. Kekerasan harus ditindak sebagai kasus kriminalitas. Langkah apapun yang akan ditempuh pemerintah, baik itu dialog, atau langkah hukum, semuanya akan berkurang efektifitasnya jika kasus-kasus baru maupun lama tidak juga terselesaikan dengan baik. Ini adalah bagian lain dari politicalwill yang mesti ditunjukkan. Polisi penting diberdayakan untuk mampu dan tidak ragu-ragu mengatasi masalah yang dianggap sensitif ini. Ketiga, Dialog dan Penjagaan Ruang Publik. Kalau ada situasi dimana segelintir kelompok minoritas“dianggap sesat” dirangkul tanpa kekerasan, pasti keadaannya tidak akan makin rumit seperti ini. Para pihak yang terlibat seharusnya mampu dipertemukan untuk meluruskan dan mengoreksi segala kesalahpahaman, karena berdialog jauh lebihbaik ketimbang melakukan kekerasan secara sepihak.

Untuk kedepannya, diharapkan muncul titik temu dari permasalahan ini dan tidak ada kejadian seperti ini yang terulang. Jangan sampai kita saling melukai satu sama lain, apalagi terhadap saudara sebangsa setanah air. Indonesia tanah kita,tanah perdamaian. Jangan nodai dengan pertumpahan darah antar sesama.

Hits: 52

By |2018-12-20T17:10:22+00:00Desember 20th, 2018|Categories: Minoritas|Tags: , , , , |0 Comments

About the Author:

Unnes'17

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.