Kekerasan Dalam Pacaran

Sering mendengar kalimat “keluarga adalah tempat ternyaman untuk pulang?”. Ya, memang bagi anak rantau saat sedang berkumpul bersama keluarga kita bisa menceritakan bahkan menghilangkan rasa penat, jenuh dan bosan terhadap semua hal tentang perkuliahan, aktifitas diluar jam perkuliahan, bisnis bahkan percintaan. Itu juga adalah momen keluarga untuk menberikan kritik, saran serta solusi terhadap kita karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa remaja yang sedang menuju dewasa sangatlah rentan terhadap masalah-masalah kecil yang kemudian menjadi masalah besar apalagi remaja perempuan yang bisa dikatakan lebih sensitifdaripada remaja laki-laki.

Sudah umum jika seorang remaja perempuan menjalin sebuah hubungan atau bisa dikatakan pacaran dengan seorang laki-laki. Memang masa-masa remaja adalah masa kita mencari jati diri terutama dalam hal percintaan tetapi bagaimana jika dalam hubungan yang dibangun antara dua orang tersebut ada kekerasan? Banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi kepada perempuan dalam hubungan yang belum menginjak ke jenjang pernikahan apalagi dikalangan mahasiswa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kekerasan memiliki arti perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Kekerasan sendiri termasuk di dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia atau HAM. HAM memilikiarti sebagai hak yang melekat pada diri manusia sejak lahir dan tidak bisa dihapuskan. Di Indonesia HAM sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999. Pada Undang-Undang Dasar 1945 diatur dalam pasal 28A sampai 28J.

Kekerasan dalam pacaran atau dating violence adalah tindak kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan meliputi kekerasan fisik, emosional, ekonomi danpembatasan aktivitas.

Berikut merupakan contoh tindakan kekerasan terhadap perempuan yang di lakukan pacar :

  1. Kekerasan fisik, kekerasan fisik seperti memukul,menampar, menendang, mendorong bahkan sampai perempuan itu sendiri terluka.
  2. Kekerasan emosional, kekerasan emosional seperti berkata kasar, mengancam ataupun memanggil yang mempermalukan pasangannya.
  3. Kekerasan ekonomi, kekerasan ekonomi seperti meminta diluar kemampuan pasangannya bahkan hingga memaksa agar semua keperluan pasangannya di penuhi.
  4. Kekerasan seksual, kekerasan seksual seperti memeluk, mencium bahkan meminta pasanganya untuk berhubungan intim di bawah ancaman
  5. Kekerasan pembatasan aktivitas, kekerasan pembatasan aktivias seperti melarang pasanganya untuk bergaul bermain bersama teman temannya,terlalu mengekang, terlalu mencurigai apapun yang di lakukan pasangannya, hingga mudah marah walaupun itu hal sepele.

Pada tahun 2016 dan 2017, menurut sumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau lebih disingkat KPPPA 42,7% perempuan yang belum menikahpernah mengalami kekerasan, 34,4% kekerasan seksual, 19,6% mengalami kekerasan fisik. Dari 10.847 pelaku, sebanyak 2.090 pelaku adalah pacar.  Tingginya angka kekerasan ini menjadi perhatian masyarakat luas, apalagi angka kekerasan dalam hubungan pacaran bagi perempuan yang belum menikah cukup mengkhawatirkan belakangan ini. Simfoni PPA Tahun 2016 menyebutkan bahwa dari 10.847 pelaku kekerasan sebanyak 2.090 pelaku kekerasan adalah pacar/teman.

image source: mubaadalahnews.com

Banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka terjerat kekerasan dalam bentuk kekerasan pembatasan aktifitas. Mereka menyangka hal tersebut di nilai hal yang wajar dan sekaligus bentuk rasa sayang dan peduli  pasangannya terhadap perempuan itu sendiri.

Di sisi lain, pada kasus kekerasan dalam pacaran yaitu perempuan yang menjadi korban cenderung lemah, kurang percaya diri, dan sangat mencintai pasangannya. Banyak pasangan yang setelah melakukan kekerasan langsung berubah signifikan menunjukkan sikap menyesal, minta maaf, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, serta bersikap manis pada korban.

Dampak yang ditimbulkan dari kekerasan dalam pacaran sendiri bisa berbagai macam diantaranya gangguan kesehatan dan psikis korban dalam kekerasan tersebut. Gangguan kesehatan berupa memar, patah tulang bahkan bisa menimbulkan kecacatan permanen sementara untuk gangguan psikis beruapa sakit hati, malu, cemas, bingung,menyalahkan diri sendiri dan trauma.

Upaya penanganan dari kekerasan terhadap perempuan sendiri bisa dengan berbagai cara diantaranya memberikan dukungan serta menyakinkan korban untuk berani berkata tidak serta menentang segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya,membantu untuk menumbuhkan rasa percaya diri lagi. Untuk korban yang mengalami trauma dibutuhkan penanganan khusus oleh psikiater atau psikolog atau melalui pendampingan korban untuk tahap awal. Untuk mencegah dan menangani berbagai kasus kekerasan yang dialami perempuan, pemerintah (dalam hal ini Kementerian PPPA) telah melakukan berbagai upaya diantaranya dengan menyusun dan menetapkan berbagai peraturan perundang-undangan, dan mempertegas hukuman terhadap pelaku kekerasan/pelecahan. Selain itu pemerintah juga telah memberikan perlindungan layanan bagi perempuan korban kekerasan ataupun pelecehan yang mencakup pelayanan pengaduan, perlindungan hukum, kesehatan, rehabilitasi sosial dan pendampingan tokoh agama.

Bagi perempuan yang belum menikah dan sedang ingin menjalin hubungan terhadap Pasangannya, berikut tips untuk menghindari kekerasan terhadap perempuan :

  1.  Pertama kenali calon pasangan secara menyeluruh sebelum memulai sebuah hubungan yang lebih mendalam dengannya,
  2. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan dan lebih bijak dalam memilih pasangan, berani mengambil sikap dengan mengatakan ‘tidak’.
  3. Menghentikan hubungan ketika menerima tindak kekerasan, membangun komitmen sebelum memulai sebuah hubungan, memperkenalkan pasangan kepada keluarga untuk menimbulkan rasa sungkan dari pasangan terhadap keluarga, pentingnya keterlibatan peran orangtua, serta orang terdekat dalam mengawasi dan menjaga anak, keluarga, teman maupun orang yang kita kenal dari bahaya kekerasan dalam pacaran.

Berani menghentikan kekerasan terhadap perempuan berarti mendukung keseteraan genderdan juga mendukung perempuan lebih mendapatkan pengakuan emansipasi dalamberbagai bidang seperti bidang sosial, ekonomi, budaya, politik dan lain-lain.

Hits: 90

By |2018-12-18T07:29:54+00:00Desember 16th, 2018|Categories: Gender|Tags: , , |1 Comment

About the Author:

One Comment

  1. Ihsan 17 Desember 2018 at 2:19 pm - Reply

    Ya Memang pacaran rentan sekali dengan kekerasan, terlebih seperti yang mereka yang berawal dari rasa posesif hingga paling berbahaya seperti mendominasi hubungan dan tidak berimbang. Salah satu Hal terburuk seperti contoh tentang pembatasan aktivitas hingga seperti “mengkandangi” pasangan dan dijauhkan dengan teman/keluarga Dan hubungan lainnya dengan orang sekitar korban. Thanks to Tolibun dan kakak Aprillia selaku penulis tentang Hal ini, karena abusive relationship/violence dating itu betul-betul membahayakan korban.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.