Stop Kekerasan Terhadap Perempuan Melalui Pendidikan

Oleh: Rohmat

Kekerasan merupakan salah satu sikap dan tindakan yang jelas telah merenggut danmelanggar kebebasan seseorang. Apalagi hal demikian dilakukan terhadap perempuan yang mana dianggap sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Perempuan sering kali menjadi objek sasaran dalam tindakan ini. Kekerasan yang dilakukan baik di lingkungan umum maupun kekerasan dalam hiruk pikuk kehidupan rumahtangga. Padahal pada hakekatnya setiap manusia yang lahir di dunia memiliki hakasasi yang sama antar gender baik laki-laki maupun seseorang dan terlepas dari lemah atau tidaknya seseorang tersebut seharunya setiap individu memahami kewajibannya dalam menjaga dan menghormati kemerdekaan dan hak asasi seseorang. Hal ini jelas ditegaskan dalam Pasal 27 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan dan persamaan dengan tidak mengecualikan siapapun. Menjadi Warga Negara Indonesia yang merupakan negara hukum sudah sepatutnya memang terdapat regulasi yangmengecam adanya tindakan kekerasan terhadap perempuan dan memberikan sanksi terhadap pelaku yang melakukan kekerasan tersebut.

Image Source: satuharapan.com

Sikapdan tindakan kekerasan yang dilakukan seseorang terhadap perempuan menunjukkan bahwa pelaku tindakan kekerasan tersebut belum memahami hak dan kewajibannya sebagai seorang warga negara. Dalam menjalankan kehidupan dan hak nya sebagai warga negara perlu dipahami bahwa setiap individu memiliki kewajiban dalam menghormati hak asasi individu yang lain. Dalam Pasal 28G ditegaskan bahwa seseorang berhak atas perlindungan diri pribadi dan berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia. Sebenarnya sudah terdapat beberapa regulasi untuk melindungi hak-hak perempuan diantaranya terdapat dalam pengaturan dasar Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang PengesahanKonvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW), danlainnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya tindakan kekerasan terhadap perempuan di negara ini tidak terjadi lagi, jika setiap individu memahami hakdan kewajibannya sebagai Warga Negara Indonesia. Untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang demikian, maka dalam hal ini pendidikan memiliki peranan yangcukup strategis dalam menanggulangi tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Pendidikan memiliki peran sebagai upaya dini dalam menekan tindakan kekerasan terhadap perempuan

image source: idntimes

DalamUndang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Spirit untuk menanamkan sikap dan nilai-nilai Bangsa Indonesia yang senantiasa menunjung tinggi penghormatan terhadap hak individu merupakan semangat yang dapat di implementasikan melalui usaha sadar dan terencana. Sikap dan perilaku yangmenunjukkan sikap tidak empati dan cenderung menganggap dirinya sebagai orang yang kuat dan terwujud dalam sebuah tindakan kekerasan merupakan representatif rendahnya nilai-nilai dan pemahaman individu terkait hak dan kewajibannyasebagai warga negara sehingga menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan bagikorban.

Menurut penulis pendidikan merupakan salah satu langkah strategis dan nyata untuk menekan upaya kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Pendidikan yang dimaksud dalam hal ini tidak saja terbatas pada pendidikan formal, melainkan dapat diwujudkan melalui pendidikan non-formal maupun informal. Upaya pemberian edukasi ini tentu saja dapat diwujudkan pertama kali melalui lingkungan keluarga. Keluarga sebagai ruang belajar yang pertama bagi sang anak maupunanggota keluarga yang lain dalam menanamkan nilai-nilai religius dan pemahaman yang benar bagaimana seorang anggota keluarga dalam menghormati anggota keluarga yang lain sehingga nanti memiliki bekal sebelum akhirnya terjun dan melakukan kehidupan sosial ke lingkungan masyarakat yang lebih luas. Karakter yang terbentuk dan kebiasaan untuk menghargai setiap gender di lingkup keluarga dalam melakukan kegiatan merupakan langkah awal untuk memberikan pondasi yangkokoh bagi setiap individu. Tidak dipungkiri bahwa nilai-nilai keagamaan jugapenting untuk mewujudkan karakter dan sikap yang baik bagi anggota keluarga untuk saling menghormati satu sama lain dalam menjaga hak dan kewajiban masing-masing.

Image Source: kajianpustaka.com

Selain keluarga, pendidikan formal, non-formal dan informal memiliki peran strategis yang sama dalam mewujudkan pemahaman yang benar dalam menghormati setiap hak dan kewajiban warga negara pada khususnya perempuan. Pendidikan yang dimaksud dalam hal ini tidak hanya sebatas sebuah pertemuan yang dibatasi oleh jam dan sebuah gedung, melainkan sebuah upaya yang dilakukan secara nyata yang dapat dilakukan setiap orang. Katakanlah masyarakat juga memiliki peran memberikan pendidikan kepada anggota masyarakat yang lain. Contoh sikap masyarakat yang mengingatkan anggota masyarakat yang lain apabila telah melalukan tindakan kekerasan terhadap perempuan baik secara fisik maupun secara psikis.

Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa belum sepenuhnya keluarga memahami perannya sebagai guru pertama bagi anggota kelurga yang lain dalam menanamkan sikap danpembentukan karakter yang religius yang mampu memahami hak dan kewajiban oranglain. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kekerasan terhadap perempuan masih saja terjadi adalah kecenderungan bagi sang perempuan untuk melaporkan kekerasan tersebut dan yang sering terjadi di masyarakat perempuan hanya bisadiam dan menyembunyikan bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, peran masyarakat sebagai media memberikan pendidikan juga sangat dibutuhkan peran aktifnya untuk membantu perempuan dalam melaporkan setiap tindakan yang dialaminya kepadapihak berwajib.

Tidak dipungkiri bahwa tindakan kekerasan terhadap perempuan terjadi pada hampir disetiap lini latar belakang seseorang, mulai karena tingkat perekonomian, pendidikan ataupun status sosial di dalam masyarakat. Kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan sering dikelompokkan sebagai kekerasan yang berbasiskan gender.Hal demikian terjadi diakibatkan terjadinya ketimpangan atau ketidakseimbangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan. Sebuah paradigma yang perlu diubahterkait kekerasan terhadap perempuan adalah laki-laki dan perempuan memilikihak yang sama dan jangan takut bagi perempuan untuk melakukan upaya perlindungan diri dari kekerasan dan melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Stop kekerasan terhadap perempuan. Mari kita pahami hak dan kewajiban kita sebagaiwarga negara dan mari tingkatkan peran kita sebagai masyarakat untuk pekaterhadap lingkungan dalam melihat suatu permasalahan tindakan kekerasan terhadap perempuan. Antara pemerintah dan badan yang dibentuk untuk melindungi perempuan dari segala tindakan kekerasan dan masyarakat harus saling bersinergi dalam mewujudkan jaminan terhadap rasa aman dan perlindungan terhadap kaum perempuan.

Hits: 220

By |2018-12-05T19:14:13+00:00Desember 5th, 2018|Categories: Gender|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.