Perempuan Dalam Bayangan Kekerasan

Penulis : Ana Risma Nanda

Perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan sebagaimana laki-laki. Akan tetapi, kedudukan perempuan cenderung selalu berada di bawah laki-laki. Secara kronologis, penilaian semacam ini sudah berlangsung dari berabad-abad yang lalu. Dalam peradaban Yunani, perempuan senantiasa dianggap sebagai sumber penyakit sekaligus bencana. Oleh karenanya, perempuan selalu ditempatkan pada posisi yang rendah dan seolah-olah tidak memiliki nilai sama sekali. Berada sejajar dengan kaum laki-laki agaknya menjadi sebuah hal yang sangat tidak mungkin bagi kaum perempuan pada saat itu. Bahkan salah satu filsuf besar Yunani yaitu Aristoteles berpendapat bahwa pusat segala makhluk adalah laki-laki dan jika seseorang melahirkan anak perempuan maka anak tersebut dianggap buruk bagaikan seorang laki-laki yang pincang setengah manusia. Tidak jauh berbeda dengan peradaban Yunani, kaum perempuan juga dianggap dan diperlakukan secara buruk oleh orang-orang Arab di masa lalu. Mereka beramai-ramai memanfaatkan budak perempuan mereka sebagai ladang keuntungan dengan cara menjadikan budak-budak tersebut sebagai pelacur yang secara tidak langsung menciptakan sebuah definisi bahwa kaum perempuan tidak lah lebih dari objek pemuas hasrat seksual kaum laki-laki. Seakan penciptaan perempuan hanya untuk digolongkan sebagai kaum inferior yang tak akan mampu meninggalkan posisi yang paling rendah.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa gerak kaum perempuan selalu dibayang-bayangi oleh budaya patriarki. Patriarki sendiri merupakan suatu sistem sosial yang menjadikan kaum laki-laki sebagai pihak utama yang mendominasi dalam hal kekuasaan dan/atau kepemimpinan pada berbagai bidang misalnya sosial, politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Dalam realitanya, budaya patriarki tidak hanya terdapat di masa lalu ketika peradaban belum semaju sekarang, melainkan juga masih terasa kental dan melekat dalam masyarakat hingga saat ini. Eksistensi budaya patriarki yang masih cenderung tinggi tersebut lah yang juga menyebabkan kasus kekerasan terhadap perempuan masih kerap terjadi di era yang semakin maju ini. Masih banyaknya anggapan bahwa perempuan adalah kaum nomor dua di bawah laki-laki menjadikan perilaku yang sewenang-wenang terhadap perempuan entah itu dalam bentuk verbal maupun tindakan fisik masih dianggap sebagai sebuah kewajaran. Seolah perempuan adalah barang yang bebas untuk diperlakukan secara apa saja. Bahkan, dalam kasus pelecehan seksual, perempuan yang pada posisi sesungguhnya adalah sebagai korban justru masih kerap dipersalahkan dengan dilempari berbagai macam pertanyaan yang salah satunya paling sering dilontarkan adalah pertanyaan terkait pakaian seperti apa yang dikenakan oleh perempuan tersebut. “Sudah jatuh tertimpa tangga” agaknya peribahasa tersebut cocok untuk menggambarkan keberadaan kaum perempuan di tengah-tengah budaya patriarki.

image source : tassamuh.com

Selain itu, budaya patriarki juga erat kaitannya dengan perilaku misogini. Misogini adalah suatu sikap yang menunjukkan kebencian atau ketidaksukaan terhadap kaum perempuan. Seorang sosiolog bernama Allan G. Johnson berpendapat bahwa misogini dapat diwujudkan dalam berbagai cara yaitu mulai dari lelucon pornografi, penghinaan diri sendiri, hingga kekerasan terhadap perempuan. Dengan didasari dengan perasaan benci terhadap perempuan, maka semakin besar pula kemungkinan bagi perempuan untuk semakin diperlakukan tidak semestinya.

image source : faktualnews.co

Berdasarkan paparan tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa adanya budaya patriarki dan sikap misogini amat besar pengaruhnya terhadap maraknya penindasan terhadap kaum perempuan. Perempuan yang seharusnya memiliki kebebasan sama halnya dengan laki-laki diharuskan menerima perlakuan yang bertentangan dengan hak dasarnya sebagai manusia. Hak perempuan untuk mendapatkan perlindungan masih sering diabaikan oleh pihak-pihak yang merasa memiliki otoritas atas kaum perempuan. Kekerasan fisik, psikologis, hingga seksual pun amat rentan terjadi terhadap perempuan termasuk di Indonesia. Menurut laporan dari Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan dengan taraf tertinggi yaitu berupa kekerasan fisik yakni sebanyak 42%, untuk kekerasan seksual sebanyak 34%, dan kekerasan psikis sebanyak 14%. Tidak sebatas kekerasan, sering dijumpai pula kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan harus berakhir dengan kematian. Dalam hal tersebut, saya mengambil contoh kasus kekerasan yang dialami oleh seorang gadis Jepang bernama Junko Furuta. Kasus ini begitu menarik perhatian dunia karena memang kejahatan yang dilakukan oleh para pelaku terhadap sosok Junko Furuto tergolong sangat keji dan tidak manusiawi. Selama 44 hari, Junko Furuta disekap, diperkosa, disiksa, hingga akhirnya dibunuh dan jenazahnya disembunyikan di dalam sebuah drum beton berisikan 208 liter semen. Tidak berhenti pada sosok Junko Furuta, kasus-kasus kekerasan layaknya yang terjadi pada Junko Furuta juga masih banyak menimpa perempuan-perempuan di berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, juga banyak dijumpai kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Salah satunya adalah kasus pelecehan seksual yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat. Adalah sosok Ibu Baiq Nuril yang menjadi korban pelecehan seksual oleh atasannya di tempat ia bekerja. Dalam realitanya, Ibu Baiq Nuril berstatus sebagai korban, akan tetapi karena adanya kekuasaan yang dimiliki oleh sang pelaku pelecehan seksual tersebut, dengan mudahnya Ibu Baiq Nuril berubah menjadi tersangka. Dari sini dapat kita lihat bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu hal yang jauh dari kata prioritas. Oleh sebab itu, amat dibutuhkan perhatian lebih mendalam agar kekerasan terhadap perempuan tidak lagi terjadi. Merombak secara perlahan sistem patriarki menjadi sistem kesetaraan gender dapat menjadi salah satu solusi walaupun dirasa tidaklah mudah akan tetapi bukan berarti tidak mungkin sama sekali hal itu dapat menuai hasil. Selain itu, sangat diperlukan adanya regulasi yang benar-benar mampu diterapkan secara maksimal yang tidak hanya sebatas substansi tak berisi. Dan yang terpenting dari semua itu adalah menanamkan di dalam diri untuk: “STOP KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN!”.

Hits: 98

By |2018-11-27T23:57:27+00:00November 27th, 2018|Categories: Gender|Tags: , , |1 Comment

About the Author:

One Comment

  1. Eviida 27 November 2018 at 9:10 pm - Reply

    mantap

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.