Mereka Yang Di N(ANTI)KAN

Penulis: Ana Risma Nanda

Indonesia, negeri yang berwarna. Ibarat sebuah monokrom, tak hanya tergores satu warna di dalamnya melainkan terdapat sekumpulan warna – yang mampu membuatnya semakin hidup dan istimewa. Alangkah indahnya, jika warna-warna yang telah ada mampu untuk tetap bertahan dan dipertahankan eksistensinya. Saling menjaga, merawat, dan menghargai adalah jalan yang sederhana namun agaknya masih sering diartikan sebagai sebuah hal yang amat sukar untuk diterapkan oleh beberapa khalayak yang bahkan sudah fasih dalam berteori tentang “toleransi”. Minimnya kesadaran dalam bertoleransi selain tidak mencerminkan citra bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila, tetapi juga menimbulkan salah satu dampak destruktif yang awam disebut “diskriminasi”. Diskriminasi sendiri adalah pembedaan perlakuan yang didasari oleh karakteristik yang dimiliki oleh individu di antaranya adalah suku, agama, ras, antargolongan, kepercayaan, aliran politik, kelamin, dan bahkan saat ini merambah pada lingkup seksualitas. Masyarakat kita pada umumnya mengenal dan menjadikan “heteroseksualitas” sebagai orientasi seksual mereka. Heteroseksualitas merupakan ketertarikan seksual bagi orang-orang yang memiliki perbedaan gender dalam hal ini adalah laki-laki tertarik kepada perempuan begitu pula sebaliknya. Pada kenyataannya, heteroseksualitas bukan lah satu-satunya orientasi seksual yang ada. Selain heteroseksualitas, terdapat juga orientasi seksual lainnya yang dinamakan homoseksualitas (ketertarikan seksual kepada sesama gender) dan biseksualitas (ketertarikan seksual sekaligus kepada gender laki-laki dan perempuan).

Source : Study Breaks Magazine

Dewasa ini, isu tentang orientasi seksual memang sedang kencang-kencangnya naik menuju permukaan dan menjadi bahan perbincangan nan hangat di tengah sekerumun masyarakat. Banyak terkuaknya kegiatan yang dilakukan oleh para homoseksualitas dan biseksualitas seolah menjadi pemantik bara bagi masing-masing orang untuk mengutarakan perspektifnya. “Berbahaya dan Meresahkan” merupakan respons terbesar oleh sebagian masyarakat terhadap orang-orang homoseksualitas dan biseksualitas. Terhadap respons masyarakat yang demikian, memang kita tak bisa menyalahkan hal tersebut karena tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia bukan lah negara liberal layaknya Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Oleh sebab itu, anggapan terhadap kaum minoritas – terlebih jika mereka dinilai memiliki penyimpangan yang amat sangat dari segi kultur masyarakat Indonesia maka respons yang diberikan masyarakat terhadap kaum minoritas tersebut akan terkesan memojokkan dan biasanya akan berujung pada prosesi salah-menyalahkan. Sensitivitas inilah yang kemudian kerap dimanfaatkan sebagai ujung tombak bagi pihak-pihak yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan regulasi yang cenderung bermuatan “anti” terhadap perbedaan. Berkaitan dengan itu, pada saat ini,di beberapa daerah di Indonesia marak dikeluarkan peraturan yang tidak menyetujui keberadaan kaum homoseksualitas, biseksualitas, dan juga transgender. Peraturan tersebut tersaji ke dalam bentuk Peraturan Daerah berjuluk Perda Anti-LGBT. Seperti contohnya adalah Perda Kepemudaan Pemerintah Kota Balikpapan yang dilandasi pula oleh Peraturan Walikota (Perwali) Kota Balikpapan. Perda ini diusulkan oleh DPRD Kota Balikpapan sebagai reaksi atas keberadaan kaum LGBT yang dianggap kurang dipantau sebelumnya sehingga perlu dituangkan ke dalam Perda. Selain itu, anggapan bahwa LGBT merupakan sebuah penyakit yang harus dibasmi menjadi cikal bakal mengapa pembahasan terkait LGBT sangat perlu untuk dituangkan ke dalam Perda tersebut. Bertolak pada anggapan bahwa LGBT merupakan sebuah penyakit, apabila dilihat dari dunia medis memang benar adanya bahwa perilaku homoseksualitas dan biseksualitas berpeluang besar menjadi pemicu dari munculnya penyakit HIV-AIDS. Sebenarnya, fenomena LGBT bukan lah hal yang benar-benar baru terjadi pada saat ini. Karena, apabila diselisik kembali dari konteks sejarah dan sosial di masa lalu, fenomena ini memang sudah muncul bahkan sebelum memasuki tahun masehi.

Photo by Perry Grone on Unsplash

Menurut hemat saya, fenomena LGBT tidak akan pernah benar-benar punah karena latar belakang kehidupan setiap orang tidak lah sama. Kita tidak akan pernah tahu hal-hal apa saja yang telah dialami oleh seseorang sehingga seseorang tersebut menjadi LGBT. Bisa jadi karena faktor lingkungan atau adanya trauma di masa lalu yang menyebabkan seseorang lebih memilih untuk menjadi LGBT. Maka dari itu, alangkah lebih baiknya jika segala sesuatu yang berhubungan dengan LGBT tidak langsung ditangani ke dalam tindakan yang bersifat anarkis seperti halnya diskriminasi atau bahkan pada taraf yang lebih parah adalah tindakan persekusi terhadap kaum LGBT. Perlu digarisbawahi bahwa para LGBT juga merupakan warga negara yang memiliki Hak Asasi Manusia yang perlu dihormati walau kebanyakan dari kita tidak menyetujui keberadaan mereka. Perlu diingat pula bahwa tidak segala sesuatu yang dianggap menyimpang harus secara spontan dibawa ke dalam ranah hukum sebab kita juga perlu memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup supaya kita sebagai manusia tidak sebatas menjadi seonggok daging melainkan juga harus memanusiakan manusia. Menilai keberadaan Perda Anti-LGBT, maka terkait keseluruhan substansinya haruslah ditinjau dari Undang-Undang Dasar 1945 yang menjunjung tinggi perlindungan bagi setiap warga negara. Dengan sejalan bersama Undang-Undang Dasar 1945, maka bukan lah sesuatu yang sulit jika Perda yang menyinggung permasalahan LGBT akan dapat dirasakan manfaatnya tanpa diiringi sikap diskriminatif pada praktiknya di kemudian hari. Sehingga, tidak akan kita jumpai lagi kasus-kasus pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap para LGBT, pun masyarakat bisa untuk tidak bersikap terlalu reaktif terhadap mereka.

Hits: 105

By |2018-11-28T00:04:09+00:00November 25th, 2018|Categories: Minoritas|Tags: , |1 Comment

About the Author:

One Comment

  1. Zuhri 25 November 2018 at 2:39 pm - Reply

    kemajemukan atau warna” indonesia itu bukan dalam hal ini (heterosexualitas). Sudah lama mungkin sejak saya SD dibahas mengenai kemajemukan indonesia itu dalam konteks suku, ras, bahasa, agama, dll . Tidak ada yang menyangkut mengenai heterosexualitas

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.