Ribut-Ribut Terus, Pandainya Kapan?

Penulis : Tirta Mulya Wira Pradana

Belakangan ini pembicaraan mengenai isu toleransi dan intoleransi sedang hangat-hangatnya, kita tentu masih ingat betul rentetan peristiwa yang terjadi, seperti usaha menggantikan Ideologi Pancasila oleh kelompok garis keras, persekusi terhadap minoritas. Tentu saja hal ini mendapatkan simpati dan empati dari semua pihak, ada yang membicarakan isu toleransi di angkringan, coffee shop, dan di gedung-gedung elit tempat para politikus, itu semua bukti bahwa peristiwa-peristiwa tersebut mengguncang sanubari kita. Tapi yang perlu kita ingat bahwa setiap perkataan yang terucap dari politikus merupakan manuver politiknya, jadi menurut hemat penulis jangan menelan mentah-mentah dari apa yang dilihat dan yang dibaca, So beware what you watch and read.
Berangkat dari hal itu penulis juga sempat mengalami putus asa dan menganggap bahwa memperjuangkan toleransi itu ibarat menunggu Negara Islandia berubah menjadi gurun pasir. Tapi ternyata anggapan penulis salah bahwa masih ada yang peduli dan memperjuangkan toleransi terus-menerus, salah satunya melalui Komunitas Pandai, apa itu Komunitas Pandai? Pandai merupakan kepanjangan dari Pendidikan Damai Indonesia berdasarkan kearifan lokal yang didirikan oleh Kak Isti Toq’ah alumni dari University of Peace di Kosta Rika. Sebagai tambahan informasi University of Peace merupakan universitas dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang kajian utamanya adalah perdamaian, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia. Komunitas Pandai merupakan oase saat ini karena kehadirannya dapat menjadi pelepas dahaga toleransi yang ada di Indonesia walaupun baru terbilang usia muda, lebih hebatnya lagi Komunitas Pandai telah memperlebar sayapnya hingga ke Semarang, sampai akhirnya terbentuklah Komunitas Pandai Cabang Semarang.
Program di Pandai antara lain, BBQ (Bersih-Bersih Quy), Buruan Gerak dan Living in. Terkhusus Pandai Semarang telah melaksanakan BBQ-1 pada hari Selasa 20 November 2018 di Gereja Kristen Indonesia Gereformeerd Semarang, alasan dilaksanakannya BBQ-1 di GKI Gereformeerd Semarang untuk menunjukkan bahwa kepedulian terhadap toleransi itu masih ada, terutama oleh generasi milenial yang saat ini menurut anggapan orang-orang dinilai apatis.

Perlu diketahui pada saat pelaksanaan BBQ-1 kemarin tidaklah mudah, Khoiril Huda selaku Ketua Pandai Cabang Semarang menjelaskan karena kegiatan BBQ ini baru pertama kali dilaksanakan di Semarang menyebabkan minat pendaftarnya sedikit. Bahkan Ari panggilan akrabnya juga bisa dibilang nekat karena walaupun satu atau dua orang peserta maka kegiatan harus tetap berlangsung, namun sebelum h-5 penutupan jumlah pendaftarnya meningkat drastis himgga mencapai 20-an peserta, selain itu tantangan juga dialami oleh Jerico Mathias selaku public relation Pandai Cabang Semarang. Jerico menuturkan bahwa walaupun Semarang dikenal dengan kota yang toleran namun masih saja ada segelintir yang mengatakan kegiatan ini dikaitkan dengan politik, menjual agama, dan menganggap kegiatan BBQ-1 ini layaknya pekerjaan yang sia-sia. Walaupun berbagai halangan merintang kegiatan BBQ-1 kemarin berjalan dengan baik dan sukses, selain itu juga dihadiri generasi muda yang multikultural baik agama, suku, budaya, mereka bekerja sama membersihkan gereja demi kenyamanan saat digunakan untuk beribadah.

Pada foto tersebut dapat kita lihat bagaimana tidak ada kecanggungan satu sama lain semuanya melebur menjadi satu sambil diselingi gelak tawa. Salah satu peserta Agus menjelaskan ia mendapatkan pengalaman pertama kali saat berkunjung ke gereja, ia mendapatkan kedamaian. Agus berpesan bahwa sudah seharusnya sesama mahluk tuhan  untuk menghargai dan menghormati orang lain. 

Penatua Robert selaku perwakilan Gereja Gereformeerd Semarang mengucapkan terimakasih dan mengapresiasi kegiatan-kegiatan positif yang bertujuan untuk terciptanya toleransi antar umat beragama. Kegiatan BBQ-1 ini seharusnya dapat membuka mata dan hati mereka yang ingin memaksakan kehendak, karena daripada ribut-ribut terus, Pandainya kapan?

Hits: 107

By |2018-11-29T21:31:43+00:00November 24th, 2018|Categories: Toleransi|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.