Memaknai Toleransi: Bersih-Bersih Quy di GKI

Penulis: Laga Sugiarto

Semarang – Barusan saja kita melewati hari toleransi dunia, beberapa hari setelahnya maulid nabi, dua hari yang sungguh membahagiakan, secara esensil bukan karena hari libur sehinga kita rehat beraktivitas rutin sementara, namun jika kita flashback serta mereview terhadap upaya-upaya membangun toleransi di Indonesia barangkali masih jauh dari harapan sebagian umat beragama di Indonesia, karena itulah momen keduanya sudah seharusnya kita manfaatkan sebagai titik balik melalui perubahan cara kerja nyata serta terus menerus akan cita-cita perdamaian di tempat masing-masing.

Kerja-kerja nyata di Semarang, baik secara sendiri maupun bersama-sama, termasuk bersama lintas agama, mengisinya dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat baik melalui diskusi dan bedah buku tentang toleransi, menonton bersama film-film bertemakan perdamaian, lain halnya dengan sekelompok pemuda generasi millenial yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, daerah maupun agama secara sadar bersatu berlandaskan semangat yang sama akan toleransi pun terwadahi dalam suatu komunitas yang dinamakan Pandai Semarang, terucap dari Zahra salah satu relawan berhijab dari Jawa Timur “semangat menyumbang pada perdamaian-lah energi penggerak saya hadir dari Jember dan berada disini bersama teman-teman”.

Pandai Semarang sebagai komunitas interfaith, terbentuk baru beberapa bulan lalu sebagai chapter pertama dari Pandai Indonesia, dalam mengupayakan toleransi dengan cara yang berbeda dibanding kelompok-kelompok interfaith lainnya, berbeda tentunya unik, uniknya komunitas ini yakni program bersih-bersih (go clean) tempat ibadah, sekilas kita memandang remeh program tersebut, karena istilah go clean sendiri tak asing di telinga ketika kita membuka aplikasi pada gadget kita untuk memesan jasa kebersihan pada provider berwarna hijau, atau dalam bentuk konvensional petugas kebersihan, pasukan oranye dan sejenisnya. Barangkali energi nyinyiran nama program ini menjadi berkah tersendiri kelak mudah dikenal dan dikuti masyarakat luas, senada dengan apa yang dikatakan Ari dan Jerico sebagai pengurus “awalnya kami hanya berjumlah 9 orang pengurus, ditambah pendaftar relawan hanya 2 orang, namun menjelang hari H, luar biasa jumlah kami bertambah menjadi 25 orang”.

Meskipun sepele, namun bersih-bersih ini bukanlah kerja bakti pada umumnya yang mentradisi di masyarakat kita, yang di lakukan oleh kelompok-kelompok agama masing-masing membersihan tempat ibadahnya sendiri, dalam hal ini bersih-bersih seperti kerja bakti dari berbagai lintas agama membersihkan berbagai tempat ibadah tak terkecuali agama tertentu. Dalam kegiatan bersih-bersih, komunitas Pandai Semarang menamakannya dengan bbq, bersih-bersih quy (yuk).

Bersih-bersih quy untuk yang pertama kali (bbq1) dilakukan di GKI, mengambil GKI merupakan titik awal menyemai toleransi bagi para relawan untuk memaknai toleransi dengan cara yag sederhana, minimal setiap relawan berangkat, masuk dan pulang dari gereja tidak lagi memiliki segala prasangka di hati tentang perbedaan antara orang lain dengan dirinya, sehinga ke depannya terbiasa hidup dalam suasana kerukunan serta terhindar dari permusuhan, kekerasan dan diskriminasi yang celakanya dalam bentuk yang masif menjadi radikalisasi dan terorisme. Penatua (pendeta) di GKI sendiri begitu sangat mengapresiasi kegiatan ini dalam pernyataannya “Saya sungguh bahagia, ketika pemuda pemudi di era saat ini masih perduli menawarkan aksi-aksi toleransi, nampak dari para relawan yang tak lagi canggung memasuki Gereja meskipun beragama non”.

Memulai dari sesuatu yang sederhana, program bbq1 tentunya akan berkelanjutan dengan bbq-bbq berikutnya, ditambah bukan hanya bersih-bersih dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lainnya, kekhasan Pandai Semarang dari organisasi induknya menambahkan adanya program yang lebih inklusif berupa kegiatan tinggal bersama (living in) di komunitas agama lainnya, “Pandai Semarang.. Berbeda dan Nyata”, sahut Frans.

Hits: 819

By |2018-11-28T00:04:58+00:00November 20th, 2018|Categories: Toleransi|Tags: , , , |4 Comments

About the Author:

4 Comments

  1. LA ODE ACHMAD YAMIN ARYSTU 27 November 2018 at 8:38 pm - Reply

    Manntap. Ini baru yang namanya binekatunggal ika

  2. La ode achmad yamin arystu 27 November 2018 at 8:41 pm - Reply

    mantapp. Ini baru namanya Binekatunggal ika

  3. Abcya 10 29 Maret 2019 at 12:57 am - Reply

    Howdy very cool web site!! Guy .. Beautiful ..
    Superb .. I’ll bookmark your blog and take the feeds additionally?
    I am satisfied to seek out numerous helpful info here in the
    put up, we want develop more strategies in this regard, thank you for sharing.
    . . . . .

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.